Meliarkan Ide ala Hamsad Rangkuti

Tampaknya, kita memang tidak perlu mencari ide-ide luar biasa untuk bisa menulis cerita yang luar biasa. Kesan awal itulah yang saya tangkap ketika membaca buku “Bibir dalam Pispot” karya Hamsad Rangkuti. Sejatinya, “Bibir dalam Pispot” adalah kumpulan cerita pendek karya Hamsad Rangkuti yang berhasil memperoleh Khatulistiwa Literary Award tahun 2013. Cap sebagai peraih award cukuplah sebagai jaminan awal kalau buku ini bagus. Bagus? Let’s see how it works on me. 🙂 

Seorang kawan pernah berkata pada saya, baiknya ketika membaca buku, kita memulai dari halaman pertama. Maksudnya, mulai dari membaca judul dan penulisnya di halaman muka, membaca identitas bukunya, kemudian membaca daftar isi, bahkan kata pengantarnya sekaligus sebelum benar-benar mulai membaca isi buku itu sendiri. Saya tidak pernah benar-benar melakukannya karena menurut saya, isinya-lah yang penting. Tapi agaknya mencoba saran itu juga bukan hal yang sekedar buang-buang waktu, kan? Dan ternyata, ada hadiah kecil yang disiapkan Hamsad Rangkuti dalam pengantar “Bibir dalam Pispot” itu.

Selain mencoba mengajak pembaca menelusuri perjalanan hidup Hamsad Rangkuti kecil hingga menjadi penulis besar, penulis kelahiran Titikuning Medan ini juga menceritakan tentang proses kreatifnya dalam menulis cerpen, beberapa di antaranya menulis proses kreatif cerpen yang juga turut hadir di “Bibir dalam Pispot”. Asyik kan? Jika menempatkan diri sebagai pembaca, maka ini menjadi celah untuk lebih mengenal Hamsad Rangkuti dan karya-karyanya. Sementara bagi mereka yang belajar menulis, ini jadi semacam tips bagaimana kejadian-kejadian keseharian jika ditambah imajinasi yang luas maka akan menghasilkan tulisan yang tidak biasa.

Bibir dalam PispotLalu bagaimana dengan cerpen-cerpen dalam buku ini? Bagi saya menarik. Hamsad Rangkuti mengambil tema-tema sederhana, mudah dipahami, namun acap memberi kejutan pada beberapa cerpennya. Seperti cerpen berjudul “Pispot” yang diambil menjadi judul buku ini. Ceritanya tentang seorang copet yang tertangkap dan diinterogasi polisi, namun tidak mau mengakui kalau dia sudah mencopet seuntai kalung. Setelah proses interogasi yang membuat si pencopet dehidrasi karena dipaksa “membersihkan” isi perutnya, pencopet dinyatakan tidak bersalah. Di perjalanan pulang, pencopet ini justru mengaku kalau dia menelan kembali kalung yang berulang kali keluar bersama isi perutnya. Menjijikan sih, tapi inilah hasil jepretan Hamsad Rangkuti saat ia mendengar ibu-ibu di dalam angkot yang bercerita tentang pencopet kalung. Ide awalnya adalah cerita ibu-ibu di angkot tadi, kemudian ide itu dibiarkan liar di dalam imajinasinya dan jadilah cerpen “Pispot” ini.

Buku ini menyajikan 16 cerpen dengan berbagai latar. Meski tulisannya sederhana dan mengalir begitu saja, kita-pembaca- tidak pernah tahu bagaimana akhir dari cerpen-cerpen Hamsad. Tebakan saya hampir selalu keliru dan ini yang membuat saya gemas untuk membaca terus hingga akhir. Ada saja kejutan sederhana yang dibuat oleh penulis kelahiran tahun 1943 itu. Cerpen berjudul “Dia Mulai Memanjat” adalah salah satu yang menurut saya absurd, bercerita tentang seorang laki-laki yang memanjat sebuah patuh dan memenggal  patung itu. Endingnya? Saya tidak punya ide apa-apa mengenai akhir cerpen ini namun Hamsad menyajikannya dengan ide segar. Lain lagi dengan cerpen “Palasik” yang bercerita tentang sepasang suami istri. Sang suami, suatu malam, berubah wujud menjadi harimau. Si istri dimintanya untuk menjaga lilin dan meniupnya saat pagi hampir datang. Suatu hari, si istri lupa mematikan lilin dan melihat iring-iringan orang yang menggotong seekor harimau mati. Shock, ia kembali ke rumah dengan rasa penyesalan yang dalam dan menemukan suaminya sudah ada di dalam rumah. Suaminya berterima kasih karena si istri tepat mematikan lilin saat ia dikejar-kejar oleh orang-orang, namun istrinya tidak merasa mematikan lilin. Jadi? Ah, lagi-lagi cerpen ini juga ditutup dengan ide segar yang tidak terpikir hingga saya geleng-geleng kepala.

Bercerita tentang cuplikan kejadian-kejadian keseharian, keunggulan Hamsad Rangkuti mungkin dalam hal meluaskan cuplikan kejadian harian itu dengan liar dan menembus batas, namun tetap ringan untuk dibaca. Aih, pantaslah kalau “Bibir dalam Pispot” ini mendapat anugerah Khatulistiwa Literary Award!

Judul buku    : Bibir dalam Pispot

Penulis         : Hamsad Rangkuti

Penerbit       : Kompas

Advertisements

5 thoughts on “Meliarkan Ide ala Hamsad Rangkuti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s