Jangan Berterima Kasih

Sudah jam 22.00 WIB. Saya sudah mengantuk, tapi masih banyak tugas yang harus diselesaikan sebelum ayam berkokok besok pagi. Dan juga, malam itu saya menunggu seorang kawan. Dua hari yang lalu ia mengabari akan singgah dan menginap di kontrakan saya. Saya taksir, ia akan sampai beberapa menit lagi. Dan memang seperti itu juga kenyataannya.

Tentu saya bahagia bisa melihatnya lagi. Terakhir kali, kami berjumpa di Bandung dan bersama-sama mengikuti sebuah workshop mendongeng. Tapi apa yang terjadi selanjutnya adalah, muncul sebentuk perasaan agak aneh dalam hati saya. Sudah dari “sananya” saya biasa berjalan cepat. Namun kawan saya ini beberapa kali berhenti, tampak mengatur nafas sambil memegang dadanya.

Hal lainnya yang membuat saya makin merasa sesak adalah saat melihat ia terkejut mengetahui bahwa saya tinggal di lantai dua.

“Saya nggak bisa naik tangga, Ntan.” begitu ujarnya. Oh my God! Lalu bagaimana? Hari sudah makin malam dan saya tidak punya alternatif apa-apa selain menunggunya siap untuk menjejak anak tangga pertama. Berhasil. Langkah-langkah selanjutnya ia coba, namun berkali-kali berhenti dan baru menyelesaikan semua anak tangga itu setelah sepuluh menit berlalu. Saya tidak pernah tahu kalau persoalan naik tangga adalah persoalan yang sulit baginya. Ah, harusnya sudah saya katakan sejak ia berkata hendak datang ke kontrakan. >.<

“Ntan, makasih ya. Tahun 2012 saya sempat nggak tahu harus ngapain seandainya saya resign dari kerjaan. Tapi sejak ada BBC dan BBC dipindah ke rumah, saya justru bersyukur. Seenggaknya ketika saya nggak bisa pergi kerja lagi, saya punya banyak waktu buat ngurus BBC, jadi BBC bisa buka tiap hari buat anak-anak.”

No way! Saya tidak suka dia berkata seperti itu. Apa maksudnya? Saya tidak paham sampai kemudian ia bercerita tentang kondisi jantungnya yang terus melemah karena katupnya tidak berfungsi sempurna hingga membuat salah satu bilik jantunya mengalami kardiomegali. Ini hal serius, kan?

“Allah tuh emang udah ngatur ya Ntan. Allah siapin semuanya bahkan sebelum saya nge-drop lagi begini. Iya, disiapin sesempurna mungkin. Allah nyiapin BBC supaya saya punya aktivitas seandainya harus tinggal seharian di rumah.”

Tapi saya punya perspektif lain. Lalu muncullah ingatan setahun yang lalu saat kami kembali bertemu dan memutuskan membangun sebuah taman bacaan bersama-sama yang kami namai BBC. Ia jelas terlibat lebih banyak dibanding saya. Karena BBC kami bangun di Indramayu dan ia tinggal di Indramayu, maka amanahnya lebih dari apa yang bisa saya kerjakan dari Bandung. Saya merasa terlalu membebani dia tanpa saya tahu bagaimana kondisi kesehatannya beberapa tahun ke belakang.

Semalaman, ia tidak bisa tidur dengan nyaman. Berkali-kali mengeluh punggungnya sakit dan berkali-kali pula ia menyusun tumpukan bantal agar bisa tidur dengan nyaman. Paginya, semula kami akan pergi ke dokter bersama-sama sesuai dengan apa yang ia bilang sebelum datang. Namun setelah saya bersiap, ia bilang

“Ntan kerja aja. Saya nggak siap turun tangga euy. Besok aja ke dokternya bareng sama temen yang lain.”

Dan sore kemarin, saya tidak bisa lagi menahan rasa yang berkecamuk di hati saya. Ia kembali berterima kasih untuk semua hal yang saya lakukan. Saya tidak layak diberi terima kasih. Setiap kali pulang ke Indramayu, saya selallu merepotkan dia, begitupun kejadian tangga itu. Apanya yang layak diberi terima kasih?

Tolong jangan begitu, ya?

Advertisements

2 thoughts on “Jangan Berterima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s