Jurnal Pernikahan #1 : Pertanyaan-Pertanyaan

H-56 menjelang D-Day

Malam itu, waktu saya baru buka pintu rumah kost-an, saya dihadang oleh adik-adik kostan. Mereka memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan. Saya anggap ini interogasi. Iya, interogasi, karena mereka memberi saya pertanyaan yang bertubi-tubi. Pertanyaan soal benarkah saya akan menikah bulan depan.

Saya memang nggak menyengajakan diri bercerita ke penduduk kostan 65/24B itu bahwa saya akan menggenapkan separuh dien (ceile). Saya memilih untuk mengabari mereka tepat ketika undangan sudah selesai dicetak. Tapi ternyata, telinga mereka lebih tajam dari yang saya kira. Atau tembok kost-an yang emang  punya mulut ya, jadi kesebar semua gitu? Heuheu. Maka kabar saya akan menikah langsung menyebar dari lantai dua (kamar saya) ke lantai bawah. Dan mereka menuntut saya untuk cerita.

Pertanyaan pertama:

“Kapan, Teh?” Ini pertanyaan yang paling standar sih. Kebanyakan orang emang langsung nodong waktu.

“Eh kok akhir tahun banget sih Teh.. Biar tahun baru langsung status baru ya? Atau tahun barunya sekalian honeymoon?” Beberapa orang juga menduga seperti itu. Padahal… Ah, mereka nggak tau aja cerita dibalik pemilihan tanggal akhir tahun itu. Status baru? Ya memang kami berdua punya goal tahun ini kami harus menikah, eh ndilalah-nya ya emang kesampaian walau di akhir tahun banget. Honeymoon? Bagian ini belum pernah mampir di pikiran kami. Ish, udah bisa ngehalalin aja udah alhamdulillaah banget. Honeymoon mah bisa setiap hari, selamanya kali ya? Aamiin.

“Sama siapa Teh?” Ya sama lelaki lah, alhamdulillaah. Hehe. Sewaktu saya bilang kalau Abang orang Indramayu, responnya biasanya begini: “Kok orang Indramayu dipanggil Abang sih?” “Eh alhamdulillaah atuh ya, sesuai sama doa kamu selama ini”, “Ya syukur, jadi bisa pulang kampung ya…”, “Rumah jadi berpenghuni dong nanti!”. Yayaya. Hampir dua tahun ini rumah keluarga saya di Indramayu memang dibiarkan kosong nggak ditempati. Berhubung Mamah yang memutuskan tinggal dengan kakak di Depok dan adik yang juga udah mulai kuliah.

“Eh kok bisa? Gimana ceritanya tau-tau udah mau nikah aja… Nggak keliatan ih.” Ini nih yang dikomentarin adik-adik kostan. Secara si saya dikenal alim dan workaholic yang berangkat subuh pulang malem terus. Kapan pacarannya? Gimana ceritanya? Lha wong nggak pernah lihat ada lelaki yang mampir ke kostan. Jadi di bagian inilah cerita saya malam tadi difokuskan. Emang kepo banget sih mereka. Tapi bagian gimana ceritanya saya ujug-ujug mau nikah nanti lah ya saya cerita di hari lain, di blogpost yang akan datang. *penting banget*

Dan pertanyaan lain yang sebetulnya sering ditanyain juga adalah “Gimana caranya kok bisa yakin?” Hmm, gimana ya jawabnya? Bagian ini nih yang kadang kala butuh jawaban yang agak diplomatis dan panjang karena pasti akan merembet ke hal-hal lainnya seperti: “Hasil istikhorohnya via mimpi ya?”, “Gimana sih doa istikhoroh?”, “Tandanya dia jodoh kita emang apa?”. Duh ya, yang ditanya aja baru kali ini ngalamin hal kayak gitu, jadi jelaslah pengalamannya nggak bisa digeneralisasi.

Dan malam itu, dari yang semula ajang interogasi, tiba-tiba berubah jadi ajang konsultasi. Konsultasi tentang menghilangkan ketakutan menghadapi pernikahan, tentang laki-laki, tentang usia ideal untuk menikah, ah semua aja dikonsultasikan. Agak lucu aja sih, secara adik-adik kostan ini umurnya masih 20-21 tahunan, yang memang lagi masa-masanya galau dan kepingin menikah. Pengalaman aja sih (lol), sewaktu seumur mereka juga saya pernah kok kayak gitu. Gerah begitu liat satu dua temen kuliah nikah saat proposal skripsi bahkan belum digarap, ikut seminar tentang pernikahan, sampai galau ketika ada yang mengajak serius menikah. Yang awalnya menargetkan usia 25 tahun untuk menikah hingga akhirnya malah kelupaan dan keasyikan sama dunia sendiri sampai umur 27 ini. Dan saya udah mulai insyaf lagi sadar, kalau perihal jodoh, emang udah diatur dengan maha baik dan tepat waktu oleh Allah. Tepat waktunya menurut Allah lho ya, bukan menurut hitungan kita yang kadang sa karepe dhewek dalam menentukan ukuran-ukuran takdir.

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Jadi, kita tinggal punya berapa hari sampai halal?

 

 

Next posting kita pakai foto-foto kali ya biar nggak garing lempeng begini postingannya. >.<

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s