Jurnal Pernikahan #4: Apa yang Disiapkan?

H-49 jelang D-Day

Dalam perjalanan dari Indramayu ke Bandung, seorang kawan mengirim pesan singkat:

“Ntan, nulislah tentang persiapan nikahannya. Dari acara lamaran sampai sekarang.”

Well, dia belum cek blogpost saya rupanya. Ya memang sih baru empat kali ini menulis soal Jurnal Pernikahan dan nggak spesifik ngulik printilan a-z tentang what a wedding should be. Ya kita mengalir ajalah ya, kalau ada ide, baru nulis. Wehehe.

Jadi dalam beberapa bulan persiapan, saya baru kemarin banget ketemu sama Mas Tio, katakanlah, WO untuk pernikahan saya dan Abang. Nggak nyangka juga kalau di Indramayu ada juga jasa WO. Herannya, pas ketemu Mas Tio, dia nyantai wae padahal tinggal 50 hari jelang D-Day kami berdua. Mungkin karena kaminya juga kelihatan santai dan nggak banyak request ini-itu kali ya? Maybe.

Kalau kamu sedang menyiapkan pernikahan, ada baiknya memang pakai jasa wedding organizer atau kalau masih mau terlibat banyak di hal ini-itu, pakailah wedding planner. Buat saya dan Abang, kami merasa sangat terbantu dengan kehadiran Mas Tio. Soal biaya? Seadanya kocek aja. Bisa disesuaikan sih. Yang kami lakukan, syukurnya, banyak dapat bantuan dari sana-sini. Alhamdulillaah banyak banget yang ngebantu. Terharuuuu~

Ya asal itu tadi sih, nggak banyak printilan yang sebetulnya bisa dihilangkan. Memang sih, pernikahan adalah momen sakral yang kayaknya kudu banget dibuat istimewa. Setuju sih. Tapi saya lebih sepakat hal-hal yang istimewa adalah setelahnya. Iya setelahnya seperti: bagaimana mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah. Aduh serius banget sih Tan… Tapi beneran deh, justru hal terakhir itu yang sering banget hadir di pikiran saya.

Rasanya waktu cepat banget berlalunya. Setelah lamaran bulan Agustus lalu, saya masih ngerasa masih punya buanyak banget waktu buat prepare, ya ngebangun mentally prepared buat ganti status sebagai istri dan in syaa Allah sebagai seorang ibu. Saya masih punya waktu empat bulan buat baca buku tentang pernikahan dan buat tanya ini itu ke orang yang lebih senior dalam hal rumah tangga. Nyatanya sekarang, saat waktu yang saya punya tinggal satu setengah bulan, saya ngerasa NOL BESAR dalam mempersiapkan mental saya. Seberapa banyakpun buku yang saya baca tentang pernikahan, rasanya masih aja kurang sreg, kurang cukup. Haduh manusia.

Tapi trust me, baca buku banyak tentang pernikahan itu perlu. Seenggaknya kita jadi tahu hak dan kewajiban sebagai pasangan, juga untuk mempersiapkan diri menghadapi satu diri yang punya karakter jauh berbeda dengan kita. Siap gitu nerima pasangan kita dalam satu paket lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya? Yakin siap? Sejujurnya sampai saat inipun saya masih nggak terlalu yakin kalau saya bisa sedewasa itu untuk menerima calon pasangan. Apalagi kami belum lama kenal dan saya mengenalnyapun masih sebatas itu.

Ada saran dari seorang kawan yang saya pikir baik buat saya bagi di sini. Dia bilang: once saya nikah, haram bagi saya hukumnya buat ngomongin keburukan pasangan saya ke orang lain, kalau setelah itu di rumah saya masih nggak mau lepas dari pasangan. Dan saya pikir ini berat apalagi lihat banyak dari kita sudah terbiasa banget update semua jenis perasaan di media sosial. Waduh berabe deh. Jadi rasanya sebelum menikah, kita juga perlu bisa membedakan, mana hal yang perlu dibagi ke publik atau yang cukup disimpan sendiri. Ini berat buat saya yang hobinya nulis dan hangout bareng teman. Duh Gusti, paringono kemampuan buat menjaga lisan…

Ah, jadi ingat juga sekira 5 tahun lalu saya pernah menulis “Sudikah Aku Menikahi Diriku?” yang isinya tentang, sebelum memutuskan untuk menikah dengan orang lain yang pasti buanyak sekali perbedaannya, apakah kita siap untuk menerima diri kita secara utuh, penuh, ikhlas dan tanpa beban? Jadi inilah yang buat saya paling mendasar dibanding persiapan pesta syukuran: bagaimana kita bisa dewasa dan matang untuk bisa menerima diri kita dan calon pasangan dalam kerangka ibadah. Duh yaa Gusti… Bismillaah.

Karena menikah bukan soal memenuhi sunnah semata, apalagi soal hepi hepi karena ada yang akhirnya nanyain kabar kamu hampir setiap waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s