Kenangan untuk Tidak (Lagi) Dikenang

Bagaimana mungkin kita bisa jatuh cinta hanya karena sebuah tulisan?

Saat pikiran itu muncul ke permukaan, secangkir iced americano hanya tinggal separuh. Pahitnya penuh di dalam rongga mulut. Bahkan sampai naik ke kepala, mengungkit lagi kenangan. Saat pikiran itu muncul ke permukaan, jemari asyik menyusuri folder demi folder dalam netbook yang terbuka; dan sampai pada folder bernama kenangan. Ada dia di sana; di muka pintu.

Hanya ada empat tulisan yang melingkupi dua-tiga tahun perkenalan- pertemuan dan perpisahan. Manis dan pahit. Segera, pelupuk mata menghangat, hingga berbulir yang menggantung- bertahan di sudut mata tanpa pernah kubiarkan jatuh lagi.

Melihatnya mengingatkanku pada diriku sendiri; orang yang memilih jalan yang berbeda dari orang kebanyakan. Melihatnya membuatku berpikir betapa dewasanya dia, hingga suatu hari kutemukan ia begitu kekanakan- seseorang yang menikmati duduk di sebuah sudut, memandang matahari yang beranjak tenggelam.

Aku jatuh cinta padanya semenjak itu. Semenjak tulisannya membuatku berpikir: akukah yang ada dalam tulisannya itu? Ada rasa yang buncah ketika kunikmati tulisannya. Ada jarak yang seolah disimpul rapat- kami benar-benar dekat. Darinya aku mengenal romantisme.

Namun bagaimana mungkin sebuah tulisan memiliki kekuatan untuk menghapus semua rasa yang ada? Hingga menipis dan pada akhirnya hampir-hampir terlupa.

Aku terkesiap. Iced americano semakin terasa pahit di lidah. Sepahit kenangan yang hampir terlupa itu. Tidak ada lagi jarak yang bisa dilipat di antara kenangan dan kenyataan hari ini. Lalu untuk apa lagi menyimpan kenangan jika terus ada luka yang harus berulang kali disembuhkan?

 

Advertisements

The Little Prince

little prince

Little Prince and the fox

Cukup judul itu saja yang saya pilih untuk posingan ini. Saya kehabisan kata-kata, tapi ingin bercerita juga. Karena suatu hari, secara kebetulan saya melintasi counter penjualan DVD bajakan di sebuah mall. Layar televisinya menayangkan cuplikan sebuah film kartun, yang tepat setahun yang lalu saya tonton di youtube. The Little Prince! Saya hampir-hampir lupa kalau film itu diputar Oktober tahun ini! Dengan agak takut sudah kehabisan jadwal tayang di bioskop, saya tanya ke penjual DVD itu, apakah stok DVDnya masih ada. Sayangnya, habis. Tapi syukurlah, karena dengan begitu saya mencari tahu di internet apakah The Little Prince masih tayang di bioskop. Syukurnya, masih.

Bagaimana sih rasanya kalau kamu suka sesuatu dan sesuatu itu sudah di depan mata?

Yang jelas, besoknya saya duduk manis di bioskop, menanti penuh harap film itu. Dan yang jelas, saya tidak akan mencoba me-review filmnya. Karena perasaan saya mungkin serupa dengan anak kecil yang lama menginginkan sebuah permen cokelat dan akhirnya mengulum juga permen itu.

Saya senang, bahagia.

Bahagia sampai menangis.

Saya tidak mengenal Antoine de Saint-Exupery, tapi saya mengenal The Little Prince dan saya sudah lama menanti momen ini. Saya kangen, rindu berat entah pada apa. Film ini, meski hasil adaptasi, tetap meninggalkan kesan bagi saya. Kepuasan yang lebih dari kepuasan khas anak-anak.

Karya masterpiece dari Antoine de Saint-Exupery ini, berhasil juga diangkat dalam konteks kekinian dan masih saja terasa segar meski karya aslinya sudah berumur 72 tahun.

Terima kasih Pak Antoine de Saint-Exupery, yang telah menghidupkan kembali “anak-anak” di diri kami. ❤ ❤

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng: Filsafat dan Literasi, Filsafat dan Psikologi

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Aih, sudah lama sekali tidak menulis ulasan buku. Bismillaah. Bismillaah. 

Tidak seberapa lama setelah saya menemukan Dunia Anna di sebuah toko buku, awal Agustus ini saya menemukan lagi hasil kolaborasi antara imajinasi dan pemikirannya Jostein Gaarder; Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng. Judulnya memang agak berbeda dengan tiga judul buku Jostein yang sudah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia; Dunia Sophie, Dunia Anna, dan Dunia Cecilia. Judul yang sudah dialihbahasakan kali ini agak menarik, semenarik Gadis Jeruk yang pernah terbit beberapa tahun lalu.

Putri Sirkus ini sebetulnya pernah terbit tahun 2006 lalu, kemudian dicetak edisi keduanya bulan Juni kemarin. Kayak gimana sih ceritanya? Saya nggak niat bikin spoiler sih… Tapi kira-kira begini garis besarnya.

Adalah Petter, lelaki yang benaknya selalu dipenuhi oleh gagasan. Petter tidak bisa membendungnya. Alih-alih menjadi seorang penulis terkenal, ia lebih memilih untuk menjual gagasan-gagasannya. Ia tidak berminat untuk dikenal. Salah satu cerita hasil imajinasinya yang paling ia sukai adalah  tentang Panina Manina, putri seorang pemimpin sirkus yang terpisah dari ayahnya. Di antara banyak sekali cerita yang ia buat (hingga ia disebut si Laba-Laba), hanya kepada Maria-lah ia menyampaikannya.

Seiring berjalannya waktu, Petter yang membutuhkan uang kemudian mulai menjual satu persatu ceritanya. Ia membangun Writers’ Aid, program rahasia yang dibuat untuk membantu para penulis dan calon penulis yang kehabisan ide. Lambat laun, Writers’ Aid berkembang semakin besar, dengan cerita yang rata-rata menjadi buku laris. Masalah mulai timbul ketika terbit buku dengan jalan cerita yang sama di dua negara berbeda, dengan dua nama penulis yang berbeda. Petter si Laba-Laba, rupanya terjebak di jaring yang dia buat sendiri. Di tengah persoalan tersebut, Petter kemudian bertemu dengan Beate, gadis yang ia sukai setelah Maria, gadis yang ternyata adalah Panina Manina itu sendiri.

Tidak seperti 3 buku Jostein lain yang pernah saya baca, buku ini lebih dewasa karena didukung dengan tokoh-tokohnya yang juga dewasa. Hanya ada sedikit sekali cerita tentang si Petter kecil. Bagi saya, hal itu membawa angin segar, lepas dari bayang-bayang Jostein di benak saya selama ini. Meski Jostein tetaplah Jostein yang filsafat sekali. Lebih dari itu, meski ending-nya sudah bisa diduga dari awal, kompleksitas buku ini tetap terasa; bagaimana Jostein menjelaskan konsep-konsep filsafat, bagaimana Jostein memotret dunia literasi, dan bagaimana Jostein memasukkan unsur psikologis yang membentuk pribadi Petter. Masing-masing takarannya pas, sehingga kompleksitas tersebut bisa juga dinikmati dengan nyaman.

Hal menarik lainnya yang saya rasakan di buku ini adalah bagaimana Jostein menciptakan berbagai cerita kemudian menuangkannya ke dalam satu buku. Kita seperti membaca buku baru setiap kali si tokoh kita, Petter, mulai memaparkan gagasan yang ada di benaknya. Mengasyikkan!

Identitas Buku

Judul : Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Penulis : Jostein Gaarder

Tebal : 259 halaman

Tahun terbit : 2015

Penerbit : Mizan

Meliarkan Ide ala Hamsad Rangkuti

Tampaknya, kita memang tidak perlu mencari ide-ide luar biasa untuk bisa menulis cerita yang luar biasa. Kesan awal itulah yang saya tangkap ketika membaca buku “Bibir dalam Pispot” karya Hamsad Rangkuti. Sejatinya, “Bibir dalam Pispot” adalah kumpulan cerita pendek karya Hamsad Rangkuti yang berhasil memperoleh Khatulistiwa Literary Award tahun 2013. Cap sebagai peraih award cukuplah sebagai jaminan awal kalau buku ini bagus. Bagus? Let’s see how it works on me. 🙂 

Seorang kawan pernah berkata pada saya, baiknya ketika membaca buku, kita memulai dari halaman pertama. Maksudnya, mulai dari membaca judul dan penulisnya di halaman muka, membaca identitas bukunya, kemudian membaca daftar isi, bahkan kata pengantarnya sekaligus sebelum benar-benar mulai membaca isi buku itu sendiri. Saya tidak pernah benar-benar melakukannya karena menurut saya, isinya-lah yang penting. Tapi agaknya mencoba saran itu juga bukan hal yang sekedar buang-buang waktu, kan? Dan ternyata, ada hadiah kecil yang disiapkan Hamsad Rangkuti dalam pengantar “Bibir dalam Pispot” itu.

Selain mencoba mengajak pembaca menelusuri perjalanan hidup Hamsad Rangkuti kecil hingga menjadi penulis besar, penulis kelahiran Titikuning Medan ini juga menceritakan tentang proses kreatifnya dalam menulis cerpen, beberapa di antaranya menulis proses kreatif cerpen yang juga turut hadir di “Bibir dalam Pispot”. Asyik kan? Jika menempatkan diri sebagai pembaca, maka ini menjadi celah untuk lebih mengenal Hamsad Rangkuti dan karya-karyanya. Sementara bagi mereka yang belajar menulis, ini jadi semacam tips bagaimana kejadian-kejadian keseharian jika ditambah imajinasi yang luas maka akan menghasilkan tulisan yang tidak biasa.

Bibir dalam PispotLalu bagaimana dengan cerpen-cerpen dalam buku ini? Bagi saya menarik. Hamsad Rangkuti mengambil tema-tema sederhana, mudah dipahami, namun acap memberi kejutan pada beberapa cerpennya. Seperti cerpen berjudul “Pispot” yang diambil menjadi judul buku ini. Ceritanya tentang seorang copet yang tertangkap dan diinterogasi polisi, namun tidak mau mengakui kalau dia sudah mencopet seuntai kalung. Setelah proses interogasi yang membuat si pencopet dehidrasi karena dipaksa “membersihkan” isi perutnya, pencopet dinyatakan tidak bersalah. Di perjalanan pulang, pencopet ini justru mengaku kalau dia menelan kembali kalung yang berulang kali keluar bersama isi perutnya. Menjijikan sih, tapi inilah hasil jepretan Hamsad Rangkuti saat ia mendengar ibu-ibu di dalam angkot yang bercerita tentang pencopet kalung. Ide awalnya adalah cerita ibu-ibu di angkot tadi, kemudian ide itu dibiarkan liar di dalam imajinasinya dan jadilah cerpen “Pispot” ini.

Buku ini menyajikan 16 cerpen dengan berbagai latar. Meski tulisannya sederhana dan mengalir begitu saja, kita-pembaca- tidak pernah tahu bagaimana akhir dari cerpen-cerpen Hamsad. Tebakan saya hampir selalu keliru dan ini yang membuat saya gemas untuk membaca terus hingga akhir. Ada saja kejutan sederhana yang dibuat oleh penulis kelahiran tahun 1943 itu. Cerpen berjudul “Dia Mulai Memanjat” adalah salah satu yang menurut saya absurd, bercerita tentang seorang laki-laki yang memanjat sebuah patuh dan memenggal  patung itu. Endingnya? Saya tidak punya ide apa-apa mengenai akhir cerpen ini namun Hamsad menyajikannya dengan ide segar. Lain lagi dengan cerpen “Palasik” yang bercerita tentang sepasang suami istri. Sang suami, suatu malam, berubah wujud menjadi harimau. Si istri dimintanya untuk menjaga lilin dan meniupnya saat pagi hampir datang. Suatu hari, si istri lupa mematikan lilin dan melihat iring-iringan orang yang menggotong seekor harimau mati. Shock, ia kembali ke rumah dengan rasa penyesalan yang dalam dan menemukan suaminya sudah ada di dalam rumah. Suaminya berterima kasih karena si istri tepat mematikan lilin saat ia dikejar-kejar oleh orang-orang, namun istrinya tidak merasa mematikan lilin. Jadi? Ah, lagi-lagi cerpen ini juga ditutup dengan ide segar yang tidak terpikir hingga saya geleng-geleng kepala.

Bercerita tentang cuplikan kejadian-kejadian keseharian, keunggulan Hamsad Rangkuti mungkin dalam hal meluaskan cuplikan kejadian harian itu dengan liar dan menembus batas, namun tetap ringan untuk dibaca. Aih, pantaslah kalau “Bibir dalam Pispot” ini mendapat anugerah Khatulistiwa Literary Award!

Judul buku    : Bibir dalam Pispot

Penulis         : Hamsad Rangkuti

Penerbit       : Kompas

Ekspedisi 20 Gunung dalam 21 Hari? Apa Bisa?

Adalah Ekspedisi Halilintar yang menjawab kalau untuk menaklukkan 20 puncak gunung di Timur Indonesia itu bisa ditempuh dalam waktu 21 hari saja. Really? Iyes. Saya juga sempat bertanya-tanya, mana mungkin 20 puncak bisa didaki cuma dalam hitungan waktu kurang dari satu bulan. But they made it.

Sumber gambar: koleksi pribadi

Andre Febrima menulis secara detail perjalanan Tim Ekspedisi Halilintar dalam menaklukkan Mahameru hingga Tambora di tanah Sumba. Andre adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang memutuskan untuk ikut seleksi Ekspedisi Halilintar alih-alih mendaftar ujian sidang. Ekspedisi Halilintar sendiri adalah ekspedisi pendakian 20 puncak gunung yang terletak di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat yang diselenggarakan oleh Indonesian Green Ranger. Andre sebagai orang yang gandrung akan daki-mendaki, akhirnya lolos seleksi mewakili tim Indonesin Mountains dalam ekspedisi tersebut. Bersama ke 21 orang lain dalam tim ekspedisi, Andre memulai tantangan mendaki puncak dengan trek yang sulit itu pada tahun 2013 lalu.

Setelah proses karantina yang berat, Andre dan tim siap bertemu dengan alam yang sebenarnya, yang terbagi ke dalam 9 etape. Etape pertama ekspedisi dimulai dengan menaklukan Mahameru yang menjulang setinggi 3.676 mdpl. Untuk menaklukan Mahameru, tim ekspedisi membutuhkan waktu dua hari lebih hingga kembali ke Desa Tumpang. Dalam etape kedua, tim ekspedisi menaklukkan 6 puncak sekaligus, yaitu Arjuno, Batu, Welirang, Kapak Kembar, Kembar 1 dan Kembar 2 yang ditempuh dalam waktu sekitar 2 hari perjalanan. Sementara itu Gunung Anjasmoro, Gunung Biru, dan Gunung Rawung ditaklukkan sekaligus dalam etape ketiga. Penaklukan puncak-puncak di Jawa Timur berlangsung dalam 6 etape dengan 16 puncak yang berhasil dilalui dalam waktu hampir dua pekan.

Tim selanjutnya merambah ke Pulau Bali. Dalam etape ketujuh, target yang ditempuh adalah menaklukkan Gunung Batur dan Gunung Agung. Seluruh etape selesai ketika tim juga berhasil menaklukkan Rinjani dan Tambora tanpa halangan yang cukup berarti. Tuntas sudah 20 puncak gunung didaki dalam waktu tiga pekan! Amazing banget untuk saya yang bukan “anak gunung”.

Dalam buku yang ditulis oleh Andre ini, ia tidak hanya bertutur tentang perjalanannya mendaki puncak-puncak gunung, namun juga mereka dengan detail hal-hal yang harus dipersiapkan oleh para pendaki sebelum memulai pendakian. Andre mencatat, kesiapan fisik termasuk latihan fisik sebelum mulai mendaki adalah hal yang harus dilakukan oleh para pendaki yang bertujuan untuk meminimalisasi kecelakaan dalam mendaki. Perlengkapan dan kemampuan survival juga harus dimiliki selain kemampuan manajemen makan dan logistik. Berguna banget buat para calon pendaki atau bahkan pendaki sekalipun!

Buku ini ditulis “apa adanya”, catatan perjalanan yang membuat pembaca seolah ikut bertualang bersama tim ekspedisi. Bahasa-bahasa lisan juga turut menghiasi buku ini. Asyik dan meminimalisasi jarak di antara penulis dengan pembaca, namun juga di beberapa bagian agak sedikit mengganggu. Setiap awal bab, pembaca disuguhkan dengan rupa-rupa quotes tentang pendakian yang bikin gemes bin greget pingin cepat-cepat manggul carrier. Mata juga agak dimanjakan dengan foto-foto hasil jepretan Andre, beberapa berwarna tapi lebih banyak yang hitam putih. Soal layout-pun kadang bikin lelah mata sih, tapi dibanding hal-hal teknis macam itu, buku ini secara tidak langsung mengajarkan kita tentang hidup dan mensyukuri kesempatan menikmati hidup di tanah Nusantara.

Identitas Buku

Judul            : 20 Puncak 21 Hari : The Impossible Expedition

Penulis         : Andre Febrima

Tahun terbit : 2014

Penerbit       : Pipiet Senja Publishing bekerja sama dengan IM Publishing

Harga          : Rp 50.000,-

Warunk Upnormal : Saat Warkop Naik Kelas

Mumpung hujan udah berhenti, saya dan Teh Uzie, teman kantor saya memutuskan untuk keluar cari makan. Maklum, kami memang hendak lembur sampai besok, jadi butuh asupan energi yang cukup (banyak). Pilihan kami jatuh ke salah satu tempat yang sedang nge-hits di kalangan anak muda Bandung; Warunk Upnormal, yang secara kebetulan nggak terlalu jauh dari kantor kami. Sebelum sampai di lokasi tujuan, kami sudah punya alternatif lain seandainya Upnormal penuh. Beberapa kali melintas tempat makan yang letaknya di Jalan Cihampelas ini, parkiran motornya selalu “tumpah” ke jalan, yang artinya tempat ini emang happening banget. And here we are! Warunk Upnormal penuh seperti yang kami duga, tapi waiting listnya sedikit, nggak perlu nunggu lama, kamipun bisa mejeng di lantai 2 Warunk Upnormal.

Daftar menu Upnormal

Daftar menu Upnormal

Setelah berjibaku ngulik daftar menu, pilihan saya jatuh pada Roti Es Krim Green Tea. Emang lah green tea lagi jadi primadona, apa-apa yang ada green tea-nya pasti menarik selera. Ok, saya pesan itu! Sementara itu, Teh Uzie pesan Indomie Sadis Mampus dan Es Soda Lychee. Lho kok? What the…? Indomie? Iyes, merk mie instan yang setia nemenin masa tumbuh kembang kita itu. Rasanya pasti udah familiar banget kan di lidah kita? Tapi tapi, kenapa sampai masuk ke daftar menu-nya Warunk Upnormal ya?

Selidik punya selidik, Warunk Upnormal emang terinspirasi dari warkop alias warung kopi alias tempat nongkrong khas negeri kita tercinta. Jadi menu yang ditampilkan di sini ya memang nggak jauh beda dengan warkop orisinil: indomie, roti bakar, kopi. Tapi di sini, indomie-roti bakar-kopi itu didandani agar lebih “kekinian”. Coba yuk kita cicipi! Hmm, mulai dari mana ya? Dari Es Soda Lychee pesanannya Teh Uzie!

Es soda lychee

Es soda lychee

Ekspektasi buat bisa dapet buah leci atau manisan leci bakal hilang begitu minuman ini sampai di meja. Ya namanya juga kan konsepan warkop ya, jadi banderol harga sama isi ya hampir sama. Yang bisa kita nikmati dari segelas es soda leci adalah plain soda yang dicampur sirup leci. Dingin. Manis. Pastinya segar karena ada rasa nyes nyes dari sodanya. Tapi nggak pake leci beneran, cuma sirup. Ok? Minuman ini cocok buat teman makan indomie karena ringan dan segar.

Selanjutnya, ada Roti Es Krim Green Tea. Ini pesanan saya. Yang tampil di atas meja adalah dua lembar roti potongan tebal- yang saya duga rotinya adalah roti Gempol-, dengan sedikit olesan mentega dan topping dua scoop es krim green tea plus taburan green tea bubuk. Rasanya? Rotinya garing, gan! Kayak dipanggang dulu gitu. Empuk khas Roti Gempol (dugaan). Es krimnya green tea banget, bubuk green tea nya juga green tea banget *plakk*. Sesuai ekspektasi sih. Tapi scoop es krimnya kecil, jadi agak nggak puas *minta ditimpuk es krim*.

Roti Es Krim Green Tea

Roti Es Krim Green Tea

Indomie Sadis Mampus

Indomie Sadis Mampus

Indomie Sadis Mampus, seperti namanya, adalah sajian indomie plus selembar daging asap dengan level kepedasan tertentu. Di menu, rentang levelnya ditulis 1 sampai 30. Cabe rawitnya nggak nanggung-nanggung. Bukan cabe rawit yang warna hijau yang biasa kita dapet gratis kalau beli gorengan, tapi cabe rawit gede-gede yang warnanya merah itu lho! Beneran sadis! Rasanya gimana? Pedas! Selain itu? Ya, rasa kuah kaldu indomie yang udah biasa mampir di lidah kita. Ah, sayang banget lah kami nggak pesan Indomie Upnormal yang katanya kuahnya dibuat sendiri oleh Upnormal dengan campuran keju gitu. *gigit jari dah*.

Selain ketiga menu tadi, ada juga Indomie Gokil yang dicampur dengan kikil, atau nasi Gokil yang juga dicampur kikil. Ada juga menu yang agak nyelekit di hati, nama menunya Nasi Tanggal Tua. Ah jlebb!! Tau bener dah kalau kami lagi bokek. Nasi Tanggal Tua tidak lain tidak bukan adalah segunung nasi dengan dua butir telur ceplok dan cabe. Bandrol harganya lupa, nggak sampai Rp 15.000,- kalau nggak salah. Cocok banget kan buat dikonsumsi pas kondisi dompet lagi seret tapi tetep butuh hangout? 😀

Uno! Saya mah nggak bisa mainnya juga :D

Uno! Saya mah nggak bisa mainnya juga 😀

Secara keseluruhan, Warunk Upnormal ini memang warkop kekinian, yang mengandung pengertian: gaul dan modern. Tempat yang kecil nggak bikin Upnormal ini nggak asyik kok. Di salah satu outletnya di Cihampelas yang saya dan teh Uzie datangi misalnya, Upnormal di sini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama adalah smoking area dan lantai kedua non smoking area.

Meja dan bangkunya banyak meski jarak antar meja dekat banget. Crowded. Tapi, gambar-gambar di temboknya bikin Upnormal jadi tempat nongkrong yang asyik, plus ada uno juga di meja yang bisa dimainin bareng-bareng sama teman. Soal pelayanan, untuk satu mangkuk indomie sampai di meja setelah dipesan, tadi kami butuh waktu tunggu sekitar 15-20 menit. Lama sih, mungkin karena penuh banget ya. Mungkin inilah kenapa di meja ditaruh mainan, biar kita bisa nunggu tanpa rasa bosan. Hihi. Tapi idenya cerdas juga! Meski yang disajikan adalah makanan yang biasa, tapi Upnormal emang bisa bikin warkop naik ke kelas yang lebih tinggi! Buat yang berharap bisa makan dengan tenang, kayaknya mending cari tempat lain deh, secara Upnormal mah tempat nongkrongnya anak muda tea! Hehe.

Pemuda-pemudi main Uno

Pemuda-pemudi main Uno

Penasaran dan mau ke Upnormal? Ada dua cabang di Bandung ini, pertama di Jalan PHH Mustofa alias Suci (belakang Widyatama), yang kedua di Jalan Cihampelas (samping Bakso Semar). Selain indomie, roti, kopi, ada juga aneka susu murni daan mochi! Cocok banget buat anak muda karena harga-harga di sini terjangkau, mulai Rp 3.000,- sampai Rp 33.000,-. Bon appetit!

~ Kuswointan, bisa dibilang suka jajan.

Dunia Anna : Ketika Perubahan Iklim Bertemu dengan Filsafat

Apa yang paling mendasar dipikirkan oleh kita- manusia? Agaknya, kita tidak benar-benar memikirkan sesuatu di luar ke-diri-an kita. 

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan sebuah buku yang tidak terlalu tebal saat berkunjung ke toko buku. Lagi-lagi, karena bertaruh atas nama penulisnya, saya memutuskan untuk membeli buku tersebut, meski sedang tidak punya budget untuk membeli buku. Tahu Jostein Gaarder, kan? Atau setidaknya pernah mendengar nama itu? Sekitar dua puluh tahunan yang lalu, beliau pernah menulis buku yang fenomenal dan menjadi rujukan dalam kelas-kelas filsafat, setidaknya di kelas filsafat yang saya ikuti saat semester pertama kuliah. Beliaulah yang menuliskan filsafat (lebih tepatnya mungkin sejarah filsafat) dalam bentuk novel melalui novel Dunia Sophie yang cukup laris di pasaran. Dan di penghujung tahun lalu, novel terbaru beliau terbit di Indonesia, Dunia Anna.

Berkisah tentang Anna, gadis remaja yang sebentar lagi berusia enam belas tahun dan dirundung banyak sekali pikiran tentang keberlangsungan alam semesta hingga ia sempat bertemu psikiater karena dianggap memiliki kelainan oleh orangtuanya. Menjelang ulang tahunnya yang ke 16 pada 12 Desember 2012, Anna dihadiahi cincin batu rubi merah yang secara turun-temurun diwariskan. Konon merupakan cincin bertuah.

Di sisi lain, ada juga cerita tentang Nova, seorang gadis remaja yang suatu hari dikejutkan dengan kiriman surat dari nenek buyutnya dalam terminal online yang dimiliki Nova.

Nova sayang, aku tak tahu bagaimana rupa dunia saat kau membaca surat ini…

Begitu bunyi awal surat yang diterima Nova pada tahun 2028. Surat itu sendiri ternyata dikirimkan pada tahun 2012 oleh nenek buyutnya yang tidak lain adalah Anna. Bagaimana Anna bisa tahu kalau kelak, cicitnya akan bernama Nova dan kebetulan menemukan surat yang dikirimkannya?

Baik Anna maupun Nova adalah dua orang yang memiliki ketertarikan tentang upaya penyelamatan bumi. Anna memiliki ketakutan yang besar kalau-kalau suatu hari nanti tidak akan ada lagi flora dan fauna seperti yang bisa ia nikmati saat itu. Sementara Nova memiliki perasaan sedih yang dalam juga rasa kecewa karena di bumi yang ia diami, tidak ada lagi aneka kupu-kupu atau lebah dan segala jenis flora dan fauna seperti yang biasa ia lihat dari internet. Hingga suatu hari, mereka bertemu dalam mimpi Anna. Nova menuntut Anna untuk bertanggung jawab atas segala kerusakan yang telah diwariskan oleh generasi Anna dan Anna merasa mimpinya betul-betul seperti kenyataan.

Lalu, Anna bersama Jonas, pacarnya, berupaya melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan bumi seperti yang telah ia janjikan pada Nova di dalam mimpinya. Upaya Anna tampaknya tidak sia-sia, karena pada akhirnya, ia dan Jonas menemukan ide untuk mewujudkannya.

Aku cuma bilang kalau aku mau dunia tempat hidupku ini seindah dunia yang Nenek nikmati waktu seumurku. Tahu, kan kenapa? Karena itu utang kalian pada generasi kami! –dialog Nova pada Anna, hal.50

Sumber gambar: mizanstore.com

Sumber gambar: mizanstore.com

Seperti dalam bukunya terdahulu, Dunia Sophie, Jostein Gaarder kembali menyajikan filsafat dalam karyanya kali ini. Pertanyaan mendasar seperti ‘siapa aku’, ‘apa itu waktu’, dan ‘apa itu kesadaran’ menghiasi buku setebal 244 halaman ini. Pada awalnya, kita mungkin tidak menyadari betul munculnya pertanyaan-pertanyaan filosofis macam itu dalam buku ini, apalagi  pada halaman-halaman awal, pembaca langsung dihadapkan pada beragam isu lingkungan, istilah-istilah ilmiah untuk berbagai nama spesies, aneka istilah biologis atau barangkali sains yang muncul secara bertubi-tubi. Dan memang agak menyentak kesadaran saat tiba-tiba kita, pembaca, dikejutkan bahwa novel Dunia Anna adalah benar-benar novel filsafat seperti halnya Dunia Sophie.

Filsafat memang selalu dikaitkan dengan segala hal yang sulit dicerna. Ditambah dengan bumbu ancaman pemanasan global dengan serentetan daftar istilah agaknya menjadikan Dunia Anna tampak berat dan membosankan untuk dibaca. Juga, sedikit kemiripan cerita dengan Sophie yang memperoleh surat saat usianya beranjak remaja, juga menjadi tantangan awal untuk membaca hingga tuntas novel ini. Saya merasakan hal yang sama; bagaimana pada awalnya saya terjebak kemiripan situasi tokoh Anna-Nova dengan Sophie dalam lembar-lembar awal novel ini. Juga daftar istilah dan konsep-konsep filsafat yang sulit dipahami dengan sekali saya duduk membaca.

Namun, Jostein Gaarder tampaknya pandai untuk mengajak kesadaran kita bertualang bersama Anna dan Nova dengan isu lingkungan (dalam hal ini pemanasan global) yang begitu dekat dengan diri kita beberapa waktu ini.

Kita punya alasan untuk merasa nyaman tinggal di jagat raya ini! –Jonas dalam lembar presentasinya, halaman 103.

Novel ini memandu kita untuk tidak berpikir horizontal dan terbentur pada batas-batas pikiran tentang diri kita sendiri. Lebih dari itu, Jostein Gaarder berhasil menghadirkan tokoh Nova sebagai representasi cucu kita di masa depan, yang secara tidak langsung membuat kita tidak hanya berpikir tentang mereka, namun berpikir seandainya kita adalah cucu kita di masa depan, yang diwarisi bumi ini. Apa jadinya jika kita hidup tanpa pernah mendengar suara burung? Atau jika kita harus membantu penyerbukan tanaman secara manual karena kupu-kupu dan lebah sudah tidak ada? Atau bagaimana rasanya memakan sesuatu yang tidak alami? Air yang sangat terbatas, musim dingin atau bahkan kekeringan berkepanjangan? Apa jadinya kalau tidak ada lagi bensin? Bagaimana kita memasak kalau tidak ada gas? Bayangan-bayangan itu muncul saat membaca buku ini. Kesadaran kita diaduk rata; muncul rasa ngeri, putus asa, sedih, tapi juga terselip secercah optimisme.

Secara garis besar, meski buku ini mungkin tidak dinikmati sebagian orang, buku ini bagus. Buku bagus bagi saya adalah buku yang bisa menggerakan kita untuk melakukan suatu kebaikan, dan buku ini menghadirkannya pada kita. Dikemas dengan bahasa yang ringan dalam percakapan antar tokoh dan agak berat dalam beberapa bagiannya, buku ini menyajikan realitas yang sering kita lupa serta menghadirkan banyak informasi yang menunjukkan bahwa Jostein Gaarder betul-betul mencintai dua hal ini: filsafat dan lingkungan. Meski begitu, saya agak terganggu dengan terjemahannya yang membuat saya agak kurang bisa menikmati dengan lancar jaya. Namun pada akhirnya, pembaca diajak sepakat untuk mendeklarasi diri: kita masih bisa melakukan sesuatu, kan?

Selamat melakukan sesuatu!


Judul buku      : Dunia Anna

Penulis           : Jostein Gaarder

Penerbit         : Mizan

Tahun terbit  : Oktober 2014

Tebal            : 244 halaman

ISBN             : 978-979-433-842-1

Harga           : Rp 45.000,-


Kuswointan: apa arti saya di dunia?