Serpihan Hidup

Bahwa benar, kadangkala kita – secara tidak sadar atau dipaksa oleh keadaan- seringkali tidak membiarkan diri kita menikmati serpihan-serpihan kecil dalam hidup. Bagaimana cahaya matahari merambat melalui kisi-kisi jendelamu setiap pagi? Aroma apa yang mampir ke inderamu selepas kau bangun dari tidur? Saya bahkan lupa, warna apa yang saya lihat pertama kali begitu keluar dari rumah!

Bahwa tampaknya benar, kita butuh rehat. Rehat dari rutinitas yang tanpa henti. Rehat dari keriuhan jalanan. Rehat dari komentar-komentar negatif yang berseliweran di laman media sosial kita. Rehat dari betapa rumitnya simpul-simpul pemikiran kita sendiri.

Dan saat itu, biarkan saja serpihan-serpihan kecil kehidupan mengetuk pintu inderamu dan mengajakmu sejenak bertualang. Bukan hal-hal besar yang sejatinya harus kita kejar yang kemudian kita kenakan pada tubuh. Namun hal-hal kecil, yang justru memberikan kita kesempatan besar untuk menjadi sejatinya makhluk.

“Sometimes,” said Pooh, “the smallest things take up the most room in your heart.” –AA. Milne.

Apa yang bisa kita syukuri hari ini?

Pemintal Cerita

Cerita yg bikin terbengong-bengong~

FIKSI LOTUS

John Edgar Wideman

Seorang pria tengah berjalan di tengah hujan sambil mengudap pisang. Dari mana dia datang. Ke mana dia hendak pergi. Kenapa dia mengudap pisang. Seberapa deras curah hujan saat itu. Apakah dia keberatan diguyur hujan seperti itu. Seberapa cepat ia melangkah. Apa yang sedang dia pikirkan. Siapa yang melontarkan rangkaian pertanyaan ini. Siapa yang harus menjawabnya. Kenapa. Siapa peduli. Memang ada berapa banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan tentang seorang pria yang sedang berjalan di tengah hujan sambil mengudap pisang. Apakah pertanyaan yang tadi telah terlontar termasuk dari rangkaian pertanyaan tersebut atau masih ada pertanyaan lain, yang tak ada sangkut pautnya dengan si pria, atau perjalanannya, ataupun hujan yang mengguyur. Jika bukan, lantas apa yang mau ditanya. Apakah satu pertanyaan nantinya akan melahirkan pertanyaan lain. Jika iya, apa gunanya. Jika tidak, apa kira-kira yang akan jadi pertanyaan terakhir. Apakah pria itu tahu jawabannya. Apa dia suka makan pisang. Atau…

View original post 246 more words

Ini Agak Gila

Ini agak gila. Dalam beberapa waktu ke belakang, saya belum sempat menikmati hari Minggu saya untuk diri saya sendiri. Katakanlah, bahkan untuk sekedar menyelonjorkan kaki sambil bersandar pada bantal, tentu dengan sebuah buku dan secangkir teh hangat, misalnya. Dalam beberapa waktu ke belakang, saya menjadi serupa kutu loncat. Hop! Kali ini saya berada di sini, lalu hop! Saya tiba-tiba saja sudah berada di sudut kota yang lain.

Ini jelas suatu nikmat, meski tidak bisa disangkal cukup melelahkan juga. Tapi melihat senyum itu, mendengar celotehan itu, menikmati udara panas itu, adalah hal lain yang mampu mengalihkan kelelahan.

23 bulan, waktu berjalan tanpa bisa dibantah. Tanpa terasa getarannya. Janin itu rupanya sudah terlahir menjadi bayi, lalu beranjak menjadi balita. Tersengal-sengal menarik nafas, terseok-seok melangkah. Tapi ia sampai juga pada bulan yang keduapuluhtiga, kemudian menanti takdir apa lagi yang akan mengajarkannya tentang hidup.

Ya, tentu saya sedang bicara tentang kita. Tentang impian yang sedang sama-sama kita bangun. Tentang sesuatu yang rupanya perlu mendapat perhatian lebih dari saya, dari kamu, dari kita. Dia memang sedang butuh banyak perhatian. Kita sama-sama tahu ke arah mana saya akan membawa tulisan ini. Karena sekarang bagi saya, pulang adalah kita.

Ini agak gila dari kegilaan yang pernah kita bagi bersama-sama dulu. Dulu kita masih sehat, punya energi berlebih. Punya sesuatu yang masih kita cari untuk janin yang sedang kita persiapkan. Tapi kini jadi lebih gila karena kamu pun butuh perhatian ekstra. Dan sayapun harus ekstra memikirkan celah-celah waktu yang memungkinkan untuk menemuimu dan balita kita itu. Ini agak lebih gila, karena tiba-tiba begitu banyak tangan yang mengulur tangan. Membantu balita kita belajar melangkah. Membantu balita kita belajar mengucap “a”, “b” “c”, bahkan mengajarinya berkata-kata. Kemudian banyak tangan terulur, membantu saya dan kamu menjadi lebih kuat, tentu saja. Dan ini yang penting. 23 bulan, bukan berarti beban kita lebih ringan di depan sana. Tentu, keberadaan tangan-tangan itu penting untuk membantu kita yang terseok-seok membesarkan balita kita ini.

Oleh karena itu, biarlah saya menjadi agak sedikit gila. Bila setiap kali pulang, saya bertemu balita kita yang sedang bersuka cita. Biarlah kamu istirahat sejenak, sembari mencermati balita kita dari pekarangan. Sembari mengingatkan saya yang sering keliru. Sembari memilah, tangan-tangan mana yang layak kita ajak membesarkan balita kita.

Maka izinkanlah saya menjadi agak sedikit gila.

Proses Kreatif #4: Toni Morrison

After read one article on this site, I always want to read more articles. You did a great job, Maggie! Terima kasih 🙂

FIKSI LOTUS

Toni Morrison adalah pemenang Penghargaan Nobel untuk Sastra (1993), Pulitzer (1988) serta banyak perhagaan bergengi lainnya — termasuk Presidential Medal of Freedom di tahun 2012. Ia juga menjabat sebagai Profesor Emeritus di Universitas Princeton. Dalam kariernya sebagai penulis, Toni Morrison juga tidak asing dalam dunia pengeditan buku. Selama 20 tahun, ia bekerja sebagai editor di Rumah Penerbit Random House dan bertanggung-jawab atas seleksi buku-buku fenomenal yang ditulis oleh penulis Afrika-Amerika. Karya-karyanya sendiri yang telah mendunia, di antaranya adalah Sula (1975), Song of Solomon (1977), Beloved (1987), juga A Mercy (2008).

Berikut ini adalah penggalan wawancara yang diterbitkan di berbagai media, termasuk The Paris Review dan Poets & Writers.

Selamat membaca.

Tim Fiksi Lotus


SEBELUM MATAHARI TERBIT

Awalnya, saya menulis di waktu subuh, sebelum matahari terbit, karena kebutuhan — anak-anak saya masih kecil saat saya baru mulai menulis dan saya perlu waktu sendiri sebelum mereka memanggil saya, Mama ini, Mama itu…

View original post 707 more words

Analisis: Membangun Dialog

Keren!

FIKSI LOTUS

John L’Heureux

Novelis Elizabeth Bowen* merangkumnya dengan baik: “Dialog dalam karya fiksi adalah bentuk perlakuan satu karakter terhadap karakter lainnya.” Mungkin ini kedengarannya sedikit rancu di awal, namun bagiku pengertian ini sangat masuk akal saat aku berusaha menjelaskan cara kerja dialog dalam sebuah karya fiksi.

Penulis muda sering mengaburkan esensi dialog dengan percakapan, karena mereka selalu mengasumsi bahwa jika dialog ditulis semirip mungkin dengan realita, maka ia akan semakin terdengar meyakinkan. Masalahnya, dialog dan percakapan bukanlah hal yang sama. Dialog adalah sesuatu yang dibangun; sifatnya artifisial; dan hasilnya jauh lebih efisien dan lebih mudah dipercaya ketimbang percakapan biasa. Sebagaimana fiksi membelokkan kenyataan untuk menggapai kebenaran dalam jangkauan yang lebih luas [universal]; maka dialog pun berupaya mengeliminasi semua awal-awal percakapan yang tak penting, serta gangguan irelevan yang sering kita alami di kehidupan nyata. Apa tujuannya? Tentu untuk mengupas psikis karakter dan menggerakkan cerita ke arah kesimpulan yang dramatis.

Ernest Hemingway telah mendemonstrasikan, lagi dan lagi, bahwa dialog punya kemampuan untuk menopang…

View original post 593 more words

Esai: Dari Mana Datangnya Ide?

This!

FIKSI LOTUS

Neil Gaiman

Setiap profesi pasti ada kelemahannya. Dokter, misalnya, selalu dimintai nasihat medis gratis; pengacara selalu ditodong untuk memberikan informasi hukum gratis; dan seorang penggali kubur selalu diberitahu oleh orang yang tak pernah menggali kubur betapa menarik pekerjaan mereka, sebelum akhirnya arah pembicaraan dialihkan secepat mungkin. Sedangkan penulis selalu ditanya dari mana kita mendapatkan ide untuk menulis.

Di awal, aku sering memberikan jawaban yang tidak lucu, dan justru sembrono: “Dari Klub Ide Bulanan,” jawabku, atau “Dari toko ide kecil-kecilan di Bognor Regis”, “Dari buku tua berdebu di ruang bawah tanah rumahku yang penuh dengan ide”, atau bahkan “Dari Pete Atkins”. (Jawaban terakhir memang sedikit esoterik, dan butuh sedikit penjelasan. Pete Atkis adalah seorang penulis naskah dan novelis yang juga tak lain dari temanku sendiri, dan kami berdua sudah memutuskan sejak lama bahwa jika kami mendapatkan pertanyaan soal dari mana kami mendapat ide menulis, aku akan menjawab bahwa aku mendapat ide…

View original post 1,525 more words