The Little Prince

little prince

Little Prince and the fox

Cukup judul itu saja yang saya pilih untuk posingan ini. Saya kehabisan kata-kata, tapi ingin bercerita juga. Karena suatu hari, secara kebetulan saya melintasi counter penjualan DVD bajakan di sebuah mall. Layar televisinya menayangkan cuplikan sebuah film kartun, yang tepat setahun yang lalu saya tonton di youtube. The Little Prince! Saya hampir-hampir lupa kalau film itu diputar Oktober tahun ini! Dengan agak takut sudah kehabisan jadwal tayang di bioskop, saya tanya ke penjual DVD itu, apakah stok DVDnya masih ada. Sayangnya, habis. Tapi syukurlah, karena dengan begitu saya mencari tahu di internet apakah The Little Prince masih tayang di bioskop. Syukurnya, masih.

Bagaimana sih rasanya kalau kamu suka sesuatu dan sesuatu itu sudah di depan mata?

Yang jelas, besoknya saya duduk manis di bioskop, menanti penuh harap film itu. Dan yang jelas, saya tidak akan mencoba me-review filmnya. Karena perasaan saya mungkin serupa dengan anak kecil yang lama menginginkan sebuah permen cokelat dan akhirnya mengulum juga permen itu.

Saya senang, bahagia.

Bahagia sampai menangis.

Saya tidak mengenal Antoine de Saint-Exupery, tapi saya mengenal The Little Prince dan saya sudah lama menanti momen ini. Saya kangen, rindu berat entah pada apa. Film ini, meski hasil adaptasi, tetap meninggalkan kesan bagi saya. Kepuasan yang lebih dari kepuasan khas anak-anak.

Karya masterpiece dari Antoine de Saint-Exupery ini, berhasil juga diangkat dalam konteks kekinian dan masih saja terasa segar meski karya aslinya sudah berumur 72 tahun.

Terima kasih Pak Antoine de Saint-Exupery, yang telah menghidupkan kembali “anak-anak” di diri kami. ❤ ❤