The Little Prince

little prince

Little Prince and the fox

Cukup judul itu saja yang saya pilih untuk posingan ini. Saya kehabisan kata-kata, tapi ingin bercerita juga. Karena suatu hari, secara kebetulan saya melintasi counter penjualan DVD bajakan di sebuah mall. Layar televisinya menayangkan cuplikan sebuah film kartun, yang tepat setahun yang lalu saya tonton di youtube. The Little Prince! Saya hampir-hampir lupa kalau film itu diputar Oktober tahun ini! Dengan agak takut sudah kehabisan jadwal tayang di bioskop, saya tanya ke penjual DVD itu, apakah stok DVDnya masih ada. Sayangnya, habis. Tapi syukurlah, karena dengan begitu saya mencari tahu di internet apakah The Little Prince masih tayang di bioskop. Syukurnya, masih.

Bagaimana sih rasanya kalau kamu suka sesuatu dan sesuatu itu sudah di depan mata?

Yang jelas, besoknya saya duduk manis di bioskop, menanti penuh harap film itu. Dan yang jelas, saya tidak akan mencoba me-review filmnya. Karena perasaan saya mungkin serupa dengan anak kecil yang lama menginginkan sebuah permen cokelat dan akhirnya mengulum juga permen itu.

Saya senang, bahagia.

Bahagia sampai menangis.

Saya tidak mengenal Antoine de Saint-Exupery, tapi saya mengenal The Little Prince dan saya sudah lama menanti momen ini. Saya kangen, rindu berat entah pada apa. Film ini, meski hasil adaptasi, tetap meninggalkan kesan bagi saya. Kepuasan yang lebih dari kepuasan khas anak-anak.

Karya masterpiece dari Antoine de Saint-Exupery ini, berhasil juga diangkat dalam konteks kekinian dan masih saja terasa segar meski karya aslinya sudah berumur 72 tahun.

Terima kasih Pak Antoine de Saint-Exupery, yang telah menghidupkan kembali “anak-anak” di diri kami. ❤ ❤

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng: Filsafat dan Literasi, Filsafat dan Psikologi

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Aih, sudah lama sekali tidak menulis ulasan buku. Bismillaah. Bismillaah. 

Tidak seberapa lama setelah saya menemukan Dunia Anna di sebuah toko buku, awal Agustus ini saya menemukan lagi hasil kolaborasi antara imajinasi dan pemikirannya Jostein Gaarder; Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng. Judulnya memang agak berbeda dengan tiga judul buku Jostein yang sudah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia; Dunia Sophie, Dunia Anna, dan Dunia Cecilia. Judul yang sudah dialihbahasakan kali ini agak menarik, semenarik Gadis Jeruk yang pernah terbit beberapa tahun lalu.

Putri Sirkus ini sebetulnya pernah terbit tahun 2006 lalu, kemudian dicetak edisi keduanya bulan Juni kemarin. Kayak gimana sih ceritanya? Saya nggak niat bikin spoiler sih… Tapi kira-kira begini garis besarnya.

Adalah Petter, lelaki yang benaknya selalu dipenuhi oleh gagasan. Petter tidak bisa membendungnya. Alih-alih menjadi seorang penulis terkenal, ia lebih memilih untuk menjual gagasan-gagasannya. Ia tidak berminat untuk dikenal. Salah satu cerita hasil imajinasinya yang paling ia sukai adalah  tentang Panina Manina, putri seorang pemimpin sirkus yang terpisah dari ayahnya. Di antara banyak sekali cerita yang ia buat (hingga ia disebut si Laba-Laba), hanya kepada Maria-lah ia menyampaikannya.

Seiring berjalannya waktu, Petter yang membutuhkan uang kemudian mulai menjual satu persatu ceritanya. Ia membangun Writers’ Aid, program rahasia yang dibuat untuk membantu para penulis dan calon penulis yang kehabisan ide. Lambat laun, Writers’ Aid berkembang semakin besar, dengan cerita yang rata-rata menjadi buku laris. Masalah mulai timbul ketika terbit buku dengan jalan cerita yang sama di dua negara berbeda, dengan dua nama penulis yang berbeda. Petter si Laba-Laba, rupanya terjebak di jaring yang dia buat sendiri. Di tengah persoalan tersebut, Petter kemudian bertemu dengan Beate, gadis yang ia sukai setelah Maria, gadis yang ternyata adalah Panina Manina itu sendiri.

Tidak seperti 3 buku Jostein lain yang pernah saya baca, buku ini lebih dewasa karena didukung dengan tokoh-tokohnya yang juga dewasa. Hanya ada sedikit sekali cerita tentang si Petter kecil. Bagi saya, hal itu membawa angin segar, lepas dari bayang-bayang Jostein di benak saya selama ini. Meski Jostein tetaplah Jostein yang filsafat sekali. Lebih dari itu, meski ending-nya sudah bisa diduga dari awal, kompleksitas buku ini tetap terasa; bagaimana Jostein menjelaskan konsep-konsep filsafat, bagaimana Jostein memotret dunia literasi, dan bagaimana Jostein memasukkan unsur psikologis yang membentuk pribadi Petter. Masing-masing takarannya pas, sehingga kompleksitas tersebut bisa juga dinikmati dengan nyaman.

Hal menarik lainnya yang saya rasakan di buku ini adalah bagaimana Jostein menciptakan berbagai cerita kemudian menuangkannya ke dalam satu buku. Kita seperti membaca buku baru setiap kali si tokoh kita, Petter, mulai memaparkan gagasan yang ada di benaknya. Mengasyikkan!

Identitas Buku

Judul : Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Penulis : Jostein Gaarder

Tebal : 259 halaman

Tahun terbit : 2015

Penerbit : Mizan

Mengukur Diri Lewat Reading Challenge

It’s never too late to open a book and read it!

Terus terang saja, alih-alih suka baca buku, saya lebih suka mengumpulkan buku. Ini jujur lho, jujur sejujur-jujurnya. Rasanya ada kepuasan ekstra kalau lihat setumpuk atau sehamparan buku di kamar, meski ya… sebagian besar mungkin belum sempat dibaca isinya.

Sampai suatu ketika, saya merasa tidak enak juga. Pertama, tidak enak karena terus menimbun buku (walau jumlahnya belum seberapa) lalu membiarkannya menganggur begitu saja. Kedua, saya sedang semangat memulai proyek taman bacaan. Pengurus taman bacaan nggak suka baca? Kok ya rasanya non-sense ya? Untuk alasan kedua inilah saya mulai membiasakan baca buku, sedikit demi sedikit. Ya, kalaupun dulu saya juga baca buku, tapi setidaknya sekarang intensitasnya harus sedikit ditambahlah. Sedikit saja, nyadar diri.

Saya memulainya awal tahun 2015 ini. Saya perhatikan beberapa teman yang memang brilian sekali minat bacanya, ternyata memiliki target buku yang harus dibaca dalam jangka satu tahun. Ada yang memasang target 50-60 judul buku dalam setahun bahkan! Amazing! Sugoi! Saya tengok ke lubuk hati saya sendiri, dengan limit waktu kira-kira 365 hari itu, apa saya mampu baca sebanyak teman saya? Rasanya kok ya agak mustahil ya? *plak!

Akhirnya, berhubung tahun ini saya sedang menjemput usia saya ke dua puluh enam *ketauan deh umur saya sebenarnya, alamaaak!*, saya putuskan tahun ini saya harus bisa membaca 26 judul buku dari genre yang berbeda. Biar ada variasi karena sesungguhnya minat saya kalau tidak novel ya cerpen. Kalau tidak cerpen ya puisi. Mentok. Titik. Supaya tidak lupa, saya pasang target itu di akun Goodreads saya. Ya ya kamu benar! Goodreads memang suka menantang penggunanya untuk membuat target membaca. Selain di Goodreads, saya juga memasang note di desktop netbook saya yang isinya judul buku yang sudah selesai dibaca. Sengaja, biar ketahuan progresnya.

Pada awalnya saya semangat. Mungkin sama semangatnya ketika baru pertama kali membuat resolusi di awal tahun baru yang biasanya lama-lama kempes seiring waktu, semangat dan kapasitas memori yang overload. Dalam satu bulan, saya berhasil menyelesaikan dua sampai tiga judul buku. Gila! Saya salut sendiri sama semangat saya waktu itu! Lama-kelamaan, kerjaan makin menumpuk yang sebenarnya hanya alasan yang diada-adakan saja. Paling banter saya hanya selesai baca satu judul buku saja. Hal ini semakin parah ketika saya sadar kalau saya sedang terjangkit penyakit akut: demam Drama Korea. Oo God! Saya benar-benar lepas kendali. Stok judul drama jadi lebih banyak dari stok judul buku dan terus saja diisi ulang. Mata lebih awas sepanjang malam demi menamatkan satu episode, yang ternyata nagih buat melanjutkan ke episode selanjutnya. Intinya, prestasi baca yang saya upayakan dari awal tahun melorot setajam-tajamnya ke angka nol dalam satu bulan.

Sampai suatu ketika, seorang kawan yang saya temukan secara tidak sengaja, bertanya tentang sebuah buku yang saya jual. Katanya, “ini bukunya tentang apa sih Mbak?” Secepat kilat saya buka google, mengetikkan judul buku yang dia maksud, dan memberikan link resensinya ke dia. Secara, saya saja belum baca buku itu!

Tapi saya bersyukur. Aktivitas saya sebagai pemula dalam dunia jual-menjual buku ternyata memaksa saya untuk memenuhi target baca yang terbengkalai itu. Pelan tapi pasti, saya buka kembali lembar demi lembar satu buku yang sudah dua bulanan lalu saya pegang. Sekarang, tinggal 7 buku lagi yang tersisa untuk sampai di titik ke-26. Saat memulainya lebih dari setengah tahun lalu, saya sangsi bisa menyelesaikan tantangan ini. Tapi di titik ini sekarang, saya tidak percaya juga kalau lebih dari separuh target itu sudah saya raih. Saya bisa juga ternyata.

Seorang kawan lainnya pernah kaget dengan jumlah target saya. Katanya banyak sekali. Saya pikir ini sedikit, kalau ukurannya adalah teman saya yang targetnya 50-60 buku itu. Saya pikir jumlah target saya sedikit dibanding target Indonesian Montessori dengan tantangan 1000 buku dalam 3 tahun (untuk anak kecil pulak!). Intinya sih, dari postingan ini saya cuma mau menyampaikan, menantang diri untuk membaca buku bisa jadi ajang untuk mengukur diri; apakah kita memang sejenis kutu buku aka reader atau sekedar pengumpul buku?

Reading Challenge

Kuswointan, yang sedang berjuang dengan target ke-20 nya.

Meliarkan Ide ala Hamsad Rangkuti

Tampaknya, kita memang tidak perlu mencari ide-ide luar biasa untuk bisa menulis cerita yang luar biasa. Kesan awal itulah yang saya tangkap ketika membaca buku “Bibir dalam Pispot” karya Hamsad Rangkuti. Sejatinya, “Bibir dalam Pispot” adalah kumpulan cerita pendek karya Hamsad Rangkuti yang berhasil memperoleh Khatulistiwa Literary Award tahun 2013. Cap sebagai peraih award cukuplah sebagai jaminan awal kalau buku ini bagus. Bagus? Let’s see how it works on me. 🙂 

Seorang kawan pernah berkata pada saya, baiknya ketika membaca buku, kita memulai dari halaman pertama. Maksudnya, mulai dari membaca judul dan penulisnya di halaman muka, membaca identitas bukunya, kemudian membaca daftar isi, bahkan kata pengantarnya sekaligus sebelum benar-benar mulai membaca isi buku itu sendiri. Saya tidak pernah benar-benar melakukannya karena menurut saya, isinya-lah yang penting. Tapi agaknya mencoba saran itu juga bukan hal yang sekedar buang-buang waktu, kan? Dan ternyata, ada hadiah kecil yang disiapkan Hamsad Rangkuti dalam pengantar “Bibir dalam Pispot” itu.

Selain mencoba mengajak pembaca menelusuri perjalanan hidup Hamsad Rangkuti kecil hingga menjadi penulis besar, penulis kelahiran Titikuning Medan ini juga menceritakan tentang proses kreatifnya dalam menulis cerpen, beberapa di antaranya menulis proses kreatif cerpen yang juga turut hadir di “Bibir dalam Pispot”. Asyik kan? Jika menempatkan diri sebagai pembaca, maka ini menjadi celah untuk lebih mengenal Hamsad Rangkuti dan karya-karyanya. Sementara bagi mereka yang belajar menulis, ini jadi semacam tips bagaimana kejadian-kejadian keseharian jika ditambah imajinasi yang luas maka akan menghasilkan tulisan yang tidak biasa.

Bibir dalam PispotLalu bagaimana dengan cerpen-cerpen dalam buku ini? Bagi saya menarik. Hamsad Rangkuti mengambil tema-tema sederhana, mudah dipahami, namun acap memberi kejutan pada beberapa cerpennya. Seperti cerpen berjudul “Pispot” yang diambil menjadi judul buku ini. Ceritanya tentang seorang copet yang tertangkap dan diinterogasi polisi, namun tidak mau mengakui kalau dia sudah mencopet seuntai kalung. Setelah proses interogasi yang membuat si pencopet dehidrasi karena dipaksa “membersihkan” isi perutnya, pencopet dinyatakan tidak bersalah. Di perjalanan pulang, pencopet ini justru mengaku kalau dia menelan kembali kalung yang berulang kali keluar bersama isi perutnya. Menjijikan sih, tapi inilah hasil jepretan Hamsad Rangkuti saat ia mendengar ibu-ibu di dalam angkot yang bercerita tentang pencopet kalung. Ide awalnya adalah cerita ibu-ibu di angkot tadi, kemudian ide itu dibiarkan liar di dalam imajinasinya dan jadilah cerpen “Pispot” ini.

Buku ini menyajikan 16 cerpen dengan berbagai latar. Meski tulisannya sederhana dan mengalir begitu saja, kita-pembaca- tidak pernah tahu bagaimana akhir dari cerpen-cerpen Hamsad. Tebakan saya hampir selalu keliru dan ini yang membuat saya gemas untuk membaca terus hingga akhir. Ada saja kejutan sederhana yang dibuat oleh penulis kelahiran tahun 1943 itu. Cerpen berjudul “Dia Mulai Memanjat” adalah salah satu yang menurut saya absurd, bercerita tentang seorang laki-laki yang memanjat sebuah patuh dan memenggal  patung itu. Endingnya? Saya tidak punya ide apa-apa mengenai akhir cerpen ini namun Hamsad menyajikannya dengan ide segar. Lain lagi dengan cerpen “Palasik” yang bercerita tentang sepasang suami istri. Sang suami, suatu malam, berubah wujud menjadi harimau. Si istri dimintanya untuk menjaga lilin dan meniupnya saat pagi hampir datang. Suatu hari, si istri lupa mematikan lilin dan melihat iring-iringan orang yang menggotong seekor harimau mati. Shock, ia kembali ke rumah dengan rasa penyesalan yang dalam dan menemukan suaminya sudah ada di dalam rumah. Suaminya berterima kasih karena si istri tepat mematikan lilin saat ia dikejar-kejar oleh orang-orang, namun istrinya tidak merasa mematikan lilin. Jadi? Ah, lagi-lagi cerpen ini juga ditutup dengan ide segar yang tidak terpikir hingga saya geleng-geleng kepala.

Bercerita tentang cuplikan kejadian-kejadian keseharian, keunggulan Hamsad Rangkuti mungkin dalam hal meluaskan cuplikan kejadian harian itu dengan liar dan menembus batas, namun tetap ringan untuk dibaca. Aih, pantaslah kalau “Bibir dalam Pispot” ini mendapat anugerah Khatulistiwa Literary Award!

Judul buku    : Bibir dalam Pispot

Penulis         : Hamsad Rangkuti

Penerbit       : Kompas

Ekspedisi 20 Gunung dalam 21 Hari? Apa Bisa?

Adalah Ekspedisi Halilintar yang menjawab kalau untuk menaklukkan 20 puncak gunung di Timur Indonesia itu bisa ditempuh dalam waktu 21 hari saja. Really? Iyes. Saya juga sempat bertanya-tanya, mana mungkin 20 puncak bisa didaki cuma dalam hitungan waktu kurang dari satu bulan. But they made it.

Sumber gambar: koleksi pribadi

Andre Febrima menulis secara detail perjalanan Tim Ekspedisi Halilintar dalam menaklukkan Mahameru hingga Tambora di tanah Sumba. Andre adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang memutuskan untuk ikut seleksi Ekspedisi Halilintar alih-alih mendaftar ujian sidang. Ekspedisi Halilintar sendiri adalah ekspedisi pendakian 20 puncak gunung yang terletak di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat yang diselenggarakan oleh Indonesian Green Ranger. Andre sebagai orang yang gandrung akan daki-mendaki, akhirnya lolos seleksi mewakili tim Indonesin Mountains dalam ekspedisi tersebut. Bersama ke 21 orang lain dalam tim ekspedisi, Andre memulai tantangan mendaki puncak dengan trek yang sulit itu pada tahun 2013 lalu.

Setelah proses karantina yang berat, Andre dan tim siap bertemu dengan alam yang sebenarnya, yang terbagi ke dalam 9 etape. Etape pertama ekspedisi dimulai dengan menaklukan Mahameru yang menjulang setinggi 3.676 mdpl. Untuk menaklukan Mahameru, tim ekspedisi membutuhkan waktu dua hari lebih hingga kembali ke Desa Tumpang. Dalam etape kedua, tim ekspedisi menaklukkan 6 puncak sekaligus, yaitu Arjuno, Batu, Welirang, Kapak Kembar, Kembar 1 dan Kembar 2 yang ditempuh dalam waktu sekitar 2 hari perjalanan. Sementara itu Gunung Anjasmoro, Gunung Biru, dan Gunung Rawung ditaklukkan sekaligus dalam etape ketiga. Penaklukan puncak-puncak di Jawa Timur berlangsung dalam 6 etape dengan 16 puncak yang berhasil dilalui dalam waktu hampir dua pekan.

Tim selanjutnya merambah ke Pulau Bali. Dalam etape ketujuh, target yang ditempuh adalah menaklukkan Gunung Batur dan Gunung Agung. Seluruh etape selesai ketika tim juga berhasil menaklukkan Rinjani dan Tambora tanpa halangan yang cukup berarti. Tuntas sudah 20 puncak gunung didaki dalam waktu tiga pekan! Amazing banget untuk saya yang bukan “anak gunung”.

Dalam buku yang ditulis oleh Andre ini, ia tidak hanya bertutur tentang perjalanannya mendaki puncak-puncak gunung, namun juga mereka dengan detail hal-hal yang harus dipersiapkan oleh para pendaki sebelum memulai pendakian. Andre mencatat, kesiapan fisik termasuk latihan fisik sebelum mulai mendaki adalah hal yang harus dilakukan oleh para pendaki yang bertujuan untuk meminimalisasi kecelakaan dalam mendaki. Perlengkapan dan kemampuan survival juga harus dimiliki selain kemampuan manajemen makan dan logistik. Berguna banget buat para calon pendaki atau bahkan pendaki sekalipun!

Buku ini ditulis “apa adanya”, catatan perjalanan yang membuat pembaca seolah ikut bertualang bersama tim ekspedisi. Bahasa-bahasa lisan juga turut menghiasi buku ini. Asyik dan meminimalisasi jarak di antara penulis dengan pembaca, namun juga di beberapa bagian agak sedikit mengganggu. Setiap awal bab, pembaca disuguhkan dengan rupa-rupa quotes tentang pendakian yang bikin gemes bin greget pingin cepat-cepat manggul carrier. Mata juga agak dimanjakan dengan foto-foto hasil jepretan Andre, beberapa berwarna tapi lebih banyak yang hitam putih. Soal layout-pun kadang bikin lelah mata sih, tapi dibanding hal-hal teknis macam itu, buku ini secara tidak langsung mengajarkan kita tentang hidup dan mensyukuri kesempatan menikmati hidup di tanah Nusantara.

Identitas Buku

Judul            : 20 Puncak 21 Hari : The Impossible Expedition

Penulis         : Andre Febrima

Tahun terbit : 2014

Penerbit       : Pipiet Senja Publishing bekerja sama dengan IM Publishing

Harga          : Rp 50.000,-

Dunia Anna : Ketika Perubahan Iklim Bertemu dengan Filsafat

Apa yang paling mendasar dipikirkan oleh kita- manusia? Agaknya, kita tidak benar-benar memikirkan sesuatu di luar ke-diri-an kita. 

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan sebuah buku yang tidak terlalu tebal saat berkunjung ke toko buku. Lagi-lagi, karena bertaruh atas nama penulisnya, saya memutuskan untuk membeli buku tersebut, meski sedang tidak punya budget untuk membeli buku. Tahu Jostein Gaarder, kan? Atau setidaknya pernah mendengar nama itu? Sekitar dua puluh tahunan yang lalu, beliau pernah menulis buku yang fenomenal dan menjadi rujukan dalam kelas-kelas filsafat, setidaknya di kelas filsafat yang saya ikuti saat semester pertama kuliah. Beliaulah yang menuliskan filsafat (lebih tepatnya mungkin sejarah filsafat) dalam bentuk novel melalui novel Dunia Sophie yang cukup laris di pasaran. Dan di penghujung tahun lalu, novel terbaru beliau terbit di Indonesia, Dunia Anna.

Berkisah tentang Anna, gadis remaja yang sebentar lagi berusia enam belas tahun dan dirundung banyak sekali pikiran tentang keberlangsungan alam semesta hingga ia sempat bertemu psikiater karena dianggap memiliki kelainan oleh orangtuanya. Menjelang ulang tahunnya yang ke 16 pada 12 Desember 2012, Anna dihadiahi cincin batu rubi merah yang secara turun-temurun diwariskan. Konon merupakan cincin bertuah.

Di sisi lain, ada juga cerita tentang Nova, seorang gadis remaja yang suatu hari dikejutkan dengan kiriman surat dari nenek buyutnya dalam terminal online yang dimiliki Nova.

Nova sayang, aku tak tahu bagaimana rupa dunia saat kau membaca surat ini…

Begitu bunyi awal surat yang diterima Nova pada tahun 2028. Surat itu sendiri ternyata dikirimkan pada tahun 2012 oleh nenek buyutnya yang tidak lain adalah Anna. Bagaimana Anna bisa tahu kalau kelak, cicitnya akan bernama Nova dan kebetulan menemukan surat yang dikirimkannya?

Baik Anna maupun Nova adalah dua orang yang memiliki ketertarikan tentang upaya penyelamatan bumi. Anna memiliki ketakutan yang besar kalau-kalau suatu hari nanti tidak akan ada lagi flora dan fauna seperti yang bisa ia nikmati saat itu. Sementara Nova memiliki perasaan sedih yang dalam juga rasa kecewa karena di bumi yang ia diami, tidak ada lagi aneka kupu-kupu atau lebah dan segala jenis flora dan fauna seperti yang biasa ia lihat dari internet. Hingga suatu hari, mereka bertemu dalam mimpi Anna. Nova menuntut Anna untuk bertanggung jawab atas segala kerusakan yang telah diwariskan oleh generasi Anna dan Anna merasa mimpinya betul-betul seperti kenyataan.

Lalu, Anna bersama Jonas, pacarnya, berupaya melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan bumi seperti yang telah ia janjikan pada Nova di dalam mimpinya. Upaya Anna tampaknya tidak sia-sia, karena pada akhirnya, ia dan Jonas menemukan ide untuk mewujudkannya.

Aku cuma bilang kalau aku mau dunia tempat hidupku ini seindah dunia yang Nenek nikmati waktu seumurku. Tahu, kan kenapa? Karena itu utang kalian pada generasi kami! –dialog Nova pada Anna, hal.50

Sumber gambar: mizanstore.com

Sumber gambar: mizanstore.com

Seperti dalam bukunya terdahulu, Dunia Sophie, Jostein Gaarder kembali menyajikan filsafat dalam karyanya kali ini. Pertanyaan mendasar seperti ‘siapa aku’, ‘apa itu waktu’, dan ‘apa itu kesadaran’ menghiasi buku setebal 244 halaman ini. Pada awalnya, kita mungkin tidak menyadari betul munculnya pertanyaan-pertanyaan filosofis macam itu dalam buku ini, apalagi  pada halaman-halaman awal, pembaca langsung dihadapkan pada beragam isu lingkungan, istilah-istilah ilmiah untuk berbagai nama spesies, aneka istilah biologis atau barangkali sains yang muncul secara bertubi-tubi. Dan memang agak menyentak kesadaran saat tiba-tiba kita, pembaca, dikejutkan bahwa novel Dunia Anna adalah benar-benar novel filsafat seperti halnya Dunia Sophie.

Filsafat memang selalu dikaitkan dengan segala hal yang sulit dicerna. Ditambah dengan bumbu ancaman pemanasan global dengan serentetan daftar istilah agaknya menjadikan Dunia Anna tampak berat dan membosankan untuk dibaca. Juga, sedikit kemiripan cerita dengan Sophie yang memperoleh surat saat usianya beranjak remaja, juga menjadi tantangan awal untuk membaca hingga tuntas novel ini. Saya merasakan hal yang sama; bagaimana pada awalnya saya terjebak kemiripan situasi tokoh Anna-Nova dengan Sophie dalam lembar-lembar awal novel ini. Juga daftar istilah dan konsep-konsep filsafat yang sulit dipahami dengan sekali saya duduk membaca.

Namun, Jostein Gaarder tampaknya pandai untuk mengajak kesadaran kita bertualang bersama Anna dan Nova dengan isu lingkungan (dalam hal ini pemanasan global) yang begitu dekat dengan diri kita beberapa waktu ini.

Kita punya alasan untuk merasa nyaman tinggal di jagat raya ini! –Jonas dalam lembar presentasinya, halaman 103.

Novel ini memandu kita untuk tidak berpikir horizontal dan terbentur pada batas-batas pikiran tentang diri kita sendiri. Lebih dari itu, Jostein Gaarder berhasil menghadirkan tokoh Nova sebagai representasi cucu kita di masa depan, yang secara tidak langsung membuat kita tidak hanya berpikir tentang mereka, namun berpikir seandainya kita adalah cucu kita di masa depan, yang diwarisi bumi ini. Apa jadinya jika kita hidup tanpa pernah mendengar suara burung? Atau jika kita harus membantu penyerbukan tanaman secara manual karena kupu-kupu dan lebah sudah tidak ada? Atau bagaimana rasanya memakan sesuatu yang tidak alami? Air yang sangat terbatas, musim dingin atau bahkan kekeringan berkepanjangan? Apa jadinya kalau tidak ada lagi bensin? Bagaimana kita memasak kalau tidak ada gas? Bayangan-bayangan itu muncul saat membaca buku ini. Kesadaran kita diaduk rata; muncul rasa ngeri, putus asa, sedih, tapi juga terselip secercah optimisme.

Secara garis besar, meski buku ini mungkin tidak dinikmati sebagian orang, buku ini bagus. Buku bagus bagi saya adalah buku yang bisa menggerakan kita untuk melakukan suatu kebaikan, dan buku ini menghadirkannya pada kita. Dikemas dengan bahasa yang ringan dalam percakapan antar tokoh dan agak berat dalam beberapa bagiannya, buku ini menyajikan realitas yang sering kita lupa serta menghadirkan banyak informasi yang menunjukkan bahwa Jostein Gaarder betul-betul mencintai dua hal ini: filsafat dan lingkungan. Meski begitu, saya agak terganggu dengan terjemahannya yang membuat saya agak kurang bisa menikmati dengan lancar jaya. Namun pada akhirnya, pembaca diajak sepakat untuk mendeklarasi diri: kita masih bisa melakukan sesuatu, kan?

Selamat melakukan sesuatu!


Judul buku      : Dunia Anna

Penulis           : Jostein Gaarder

Penerbit         : Mizan

Tahun terbit  : Oktober 2014

Tebal            : 244 halaman

ISBN             : 978-979-433-842-1

Harga           : Rp 45.000,-


Kuswointan: apa arti saya di dunia?

Fiksi Lotus : Jelajah Jagad Sastra Dunia

Identitas Buku

Judul               : Fiksi Lotus Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia (Vol.1)

Penerjemah    : Maggie Tiojakin

Penyusun       : Maggie Tiojakin & Fiksi Lotus

Tahun terbit   : 2012

Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama

Apa jadinya kalau Ernest Hemingway, Kafka, dan Sartre bertemu dalam satu ruang kecil? Bisa jadi, mereka saling bersahutan dengan indahnya. Ecie… Untuk yang menggilai sastra, mungkin sudah familiar dengan tiga nama yang saya sebutkan tadi. Saya sendiri suka sastra, meski seringkali nggak paham dengan liukan bahasa yang digunakan para sastrawan. Tapi saya menikmati setiap imajinasi yang dibentangkan sastrawan lewat tulisan-tulisannya. Dan meski saya suka sastra, saya belum benar-benar berminat menengok karya-karya sastra lama yang ditelurkan oleh sastrawan-sastrawan kelas dunia yang karyanya juga mendunia. Belum berani. Belum berani ditenggelamkan dalam bahasa yang rumit, lebih tepatnya.

Sumber gambar : koleksi pribadi

Sumber gambar : koleksi pribadi

Tapi sekarang, di sinilah saya, duduk sambil melihat buku tempat di mana para penulis dunia bertemu. Aha! Saya akhirnya berhasil menaklukan satu buku yang isinya cerita-cerita pendek dari para penulis dunia! *sujud syukur meski masih mengganjal lantaran belum benar-benar paham isinya* >.<

Adalah Maggie Tiojakin yang menyusun 14 cerita pendek para penulis legendaris ini ke dalam satu buku setebal 184 halaman. Dalam pengantar yang ia tuliskan, ada satu kutipan menarik yang berasal dari obrolan antara Maggie dengan mentor menulisnya.

Untuk menjadi seorang penulis yang baik, wajib belajar dari para penulis yang sudah mati… karena tidak ada hal baru yang bisa dipelajari dari karya modern yang tidak dipelopori oleh para penulis di masa-masa sebelumnya.

Hal inilah yang kemudian mendorong Maggie untuk bisa menghadirkan cerita-cerita klasik ke hadapan khalayak pembaca yang budiman atau para calon penulis. Dalam buku ini, selain bisa menemukan Hemingway, Kafka, dan Sartre, kita juga dikenalkan dengan Saki, O. Henry, Chekhov, Somerset Maugham dan lain-lain (sumpah saya mah baru tahu nama-nama itu :p ). Cerita-cerita yang disajikan dalam buku ini semuanya pernah diterbitkan. Cerita yang paling tua umurnya diterbitkan tahun 1884, yang dituliskan oleh Anton Chekhov sementara yang paling “muda” ditulis oleh John Collier yang diterbitkan tahun 1951. Kebayang kan, gimana “antik”nya cerita-cerita yang ada di buku ini?

Tidak banyak yang bisa saya komentari dari buku ini. Ada cerita-cerita yang asyik dan ringan dibaca, tapi juga ada cerita yang berat, dengan ritme yang agak lama, atau bahkan membosankan (ini sih menurut saya yang ternyata kesulitan menikmati sastra >.< ). Tapi secara keseluruhan, buku ini menarik. Bagaimana tidak, satu buku yang tidak terlalu tebal dengan berani menghidangkan cerita-cerita klasik dari para penulis dunia! Hal lain yang jadi sisi menarik dari buku ini adalah, Maggie dengan hati-hati sekali memilah dan memilih cerita mana saja yang ia masukkan dalam buku ini. Selain itu, Maggie juga mencantumkan profil singkat para penulis dan sejarah penerbitan dari cerita-cerita tersebut. Hal ini tentu memudahkan kita, sebagai orang awam, dalam menjelajah jagad sastra dunia baik lewat cerita itu sendiri, penulisnya, hingga sejarah penerbitannya. Menarik, kan? Kita membeli satu, tapi mendapat lebih dari satu.

Kuswointan, sedang menunggu Fiksi Lotus Volume 2.