Bercerita untuk Perdamaian

Kira-kira, begitulah isi pesan yang hendak disampaikan dalam gelaran Workshop Mengajarkan Perdamaian pada Anak Usia Dini yang berlangsung siang tadi di Pizzalogy, Cihampelas Walk Bandung. Di tengah kondisi bangsa yang sedang carut-marut dan didera konflik saling tuding, saling hina dan lain-lain, workshop ini seperti membawa angin segar. Setidaknya, membantu kita untuk kembali pada pertanyaan mendasar tentang, bagaimana kita bisa membangun generasi tangguh di tengah “badai” seperti sekarang?

Mengikuti kelas workshop yang hanya berlangsung selama satu jam ini, saya didera rasa miris. Coba kita lihat bagaimana serangan-serangan yang kerap muncul di media sosial. Well, kalau kita perhatikan, serangan-serangan berupa kata-kata yang tidak patut dan bernafas kebencian itu dilontarkan terhadap sesama bangsa Indonesia. Kalau sesama bangsa sendiri saja berantem, wah apa jadinya Indonesia?

Dalam workshop singkat yang diisi oleh Lian Fooks dan Ida Susanti ini, kita dibantu untuk mengenalkan perdamaian pada anak-anak kita, sesuatu yang bisa jadi sudah jarang kita lakukan. Duo pemateri ini membawakan materi dengan atraktif dan aplikatif. Selain pengetahuan dasar tentang perdamaian, para peserta juga diajak untuk mengasah kreativitas dengan membuat media sederhana untuk bercerita. Saya bahkan tidak habis pikir bahwa kegiatan seperti bercerita pada anak dapat membantu anak untuk memahami bagaimana saling menghormati satu sama lain.

Melalui sebuah buku yang kita ceritakan kepada anak, kita bisa mengenalkan nilai-nilai mengenai perbedaan budaya, suku, agama, status sosial, dan segala jenis perbedaan lainnya. Lewat gaya bercerita yang atraktif, penggunaan media bantu sederhana yang mendukung isi cerita, serta penguasaan kita terhadap isi cerita, dapat membantu proses transfer nilai dalam cerita tersebut lebih cepat sampai pada anak, dan bukan tidak mungkin masuk dalam sistem koginisi dan long term memory anak- yang nantinya akan ia aplikasikan dalam kehidupan keseharian. Dan kabar gembiranya adalah, dengan bercerita, kita bisa membantu mewujudkan perdamaian di dunia! Really? A big yess, sista! Kita memang tidak mesti menjadi serupa Spiderman untuk menciptakan perdamaian, kan? Iyes, sesederhana itu saja; bercerita. Langkah kecil yang efeknya luar biasa.

Ibu Lian Fooks, so rock!

Ibu Lian Fooks, so rock!

Ibu Lian Fooks sendiri adalah pegiat perdamaian yang berasal dari Australia, sementara Bunda Ida Susanti adalah seorang guru, pegiat taman bacaan masyarakat, serta pendongeng. Perpaduan yang pas untuk memberi pencerahan bagi para peserta yang kebanyakan merupakan pendidik. Kegiatan ini merupakan satu bagian kecil saja dari gelaran Peacetival yang diinisiasi oleh Peace Gen Indonesia. Selain workshop Mengajarkan Perdamaian pada Anak Usia Dini, Peacetival juga mengadakan beragam workshop yang lagi-lagi bertema perdamaian. Ada juga aneka boots yang diikuti oleh komunitas-komunitas perdamaian, juga kedutaan Kanada serta panggung yang menampilkan aneka pertunjukan seni yang juga berorientasi pada peace campaign.

So, are you ready to be a peace-maker?

Gambar-gambar:

20150110_14360520150110_14313320150110_144252

Tulisan dan gambar oleh:

Kuswointan, penyuka kedamaian.

Advertisements