Pulang

Akhir-akhir ini, saya agak terganggu dengan definisi rumah. Meski katanya rumah adalah di manapun, tapi saya -tampaknya- punya pengertian sendiri mengenai rumah. Rumah adalah tempat (alm) bapak saya lahir dan dibesarkan, lalu membangun rumah tangga dan akhirnya membantu keberadaan saya di dunia. Rumah, bagi saya adalah sebuah kota di mana semua proses itu terjadi. *plak* Tapi, seperti itulah “rumah” bagi saya.

Ain’t no place like home.

Damn true.

Suatu hari, seseorang memberi saya definisi tentang rumah setelah saya ceritakan apa adanya diri saya *ceileh*. Begini definisi yang khusus ia buat untuk saya:

“Rumah buat kamu sekarang adalah tempat di mana mamah dan keluarga kamu berada, Ntan. Cuma dua pilihannya, Depok atau Sukabumi. Pulang buat kamu adalah dua daerah itu, bukan lagi Indramayu.”

Indramayu is no longer my home, she said. 

Saat kamu benar-benar cinta Indramayu *duh*, dan benar-benar pingin menghabiskan the rest of your life di situ lalu ada orang yang bilang rumah kamu bukan lagi di Indramayu, di situ harusnya kamu merasa sedih. *nangis bombay*

Whatever. Indramayu is always a place that I call home.

Kami masih punya bangunan rumah di sana meski sekarang begitu jarang ditempati. Kami masih punya tetangga yang menunggu kepulangan kami. Kami juga punya Bapak yang dimakamkan tidak jauh dari rumah, punya segudang kenangan di sana, dan punya cita rasa awal kami di sana. *lho kok jadi pake kami sih?* Ganti.

Pulang. Selalu banyak alasan untuk saya pulang ke tempat yang masih lekat dengan hal-hal negatif itu. Kue sayurnya! Iya kue sayur dan rumbahnya selalu menggoda saya untuk pulang. Belum lagi burbacek, pule, blengep, pepes sega, ketoprak Pande, lengko, sega kuning Sayem, sayur asem, sambel terasi, ampas kecap, kemi,  apa lagi ya? Bubur ayam kuning, sate kambing Sakmad, daaan ragit! Oh my God… *nelen liur*

Saya ingin pulang. Betul-betul ingin pulang. Melihat sawah di belakang rumah, Lihat bulan-bintang yang seringkali jelas banget, lihat kilang minyak, lihat kampung halaman. Ingin naik becak. Ke BBC, ke Cimanuk, ke makam Bapak, ke bangunan-bangunan tua itu. Makan nasi jamblang pinggir jalan, makan ayam panggang, metik pelem. Ah.

Dan rindu memang harus dibayar tuntas, Jadi kapan hendak membayarnya?

Mamah dan (Alm) Bapak

Mamah dan (Alm) Bapak

Kuswointan, si melankolis.

Advertisements