Jurnal Pernikahan #2: Ketika Sahabat Juga Menikah di Bulan Yang Sama

ketika-kamu-dan-sahabatmu-menikah-di-waktu-yang-berdekatan

Trio yang kabur bareng ke Jogja. Sebut saja pesta lajang.

H-53 jelang D-Day

Tadi malam, seorang sahabat mengirim pesan lewat whatsapp. Dia minta pendapat soal kata-kata di desain undangan pernikahannya.

“Intan lagi di mana? Bantuin aku periksa redaksi undangan aku dong, kurang lebihnya di mana biar diedit..” Selepas itu dia kirim dua file foto undangan pernikahan dia. Damn, mirip lah dengan undangan saya. Warna dasar putih, kata-katanya hampir mirip. Duh yaa.. Hahaha.

“Halah gubrak… kenapa itu belakangnya samaaaaaa…?” dia akhirnya teriak begitu di whatsapp. Yaelah, bener. Sama persis.

“Ih teteh nyontek ya? Da lengkapan saya kalimatnyapun.” yang kami bahas adalah do’a Rasulullaah ketika menikahkan putrinya Fatimah dengan Sayyidina Ali. Iya, kami mencantumkan do’a nan indah itu di bagian belakang undangan kami. Lalu kamipun tertawa.

“Teh, grup Jogja udah nggak ada ya?” tanya saya yang tiba-tiba teringat kalau saya, Teh Fika (yang sedang asyik ngobrolin undangan ini) dan Teh Ani pernah melakukan perjalanan ke Jogjakarta bulan April lalu dengan status sama-sama single. Lalu bulan Desember besok, kami bertiga juga sama-sama melepas status single itu. WHAT?

Allah emang nggak pernah secara kebetulan buat skenario untuk hidup kita. Kalau terlihat begitu kebetulan macam ini, ya sebetulnya sih rencana Allah itu udah fiks acc oke dari kapan tau kalau saya, Teh Fika, dan Teh Ani harus menikah di bulan yang sama. Kami bertiga sempat kaget juga sih awalnya. Secara, saya sama Teh Ani sering pergi bareng dan Teh Ani termasuk golongan asabiqunal awwalun yang tahu proses saya dengan Abang sejak Mei lalu. Bulan Juni, Teh Ani sempat curhat ketika kami sedang buka puasa bersama di Domin*s:

“Intan, kapan aku ketemu jodoh aku?”

Allah Maha Baik. Nggak berapa lama di pekan kesekian Ramadhan (nggak ingat tepatnya), Teh Ani cerita kalau sebuah proposal ditawarkan kepadanya. Wih! Kontan! Dengan dorongan sana-sini, akhirnya mengalirlah proses ta’aruf antara Teh Ani dengan calonnya itu.

Kembali ke kantor pasca libur lebaran yang cukup lama, ketika sedang makan bakso di pinggir jalan dengan Teh Fika, sebuah kabar baikpun mampir ke telinga: Teh Fika sudah DILAMAR! Uwow!

Dan cerita selanjutnya pun mengalir: Teh Ani dilamar dan terakhir, saya lah yang dilamar. Lalu terjadilah celetukan antara saya dan Teh Ani, juga antara saya dan Teh Fika:

“Atuhlah, jangan-jangan pada Desember semua. Kalau di Desember semua plis jangan samaan tanggalnya.”

Lalu alurnya pun jadi begini: Teh Ani menikah di pekan pertama, Teh Fika dan saya menikah di pekan terakhir bulan itu.

“Kamu dateng kan Tan ke nikahan aku?” tanya Teh Ani. Saya ragu juga jawabnya. Duh ya, wong ini juga lagi nabung-nabung buat nikahan diri sendiri. Kalau dateng ke nikahan Teh Ani yang di Palembang sono rada repot juga atur budget-nya.

“Aku ngasih kado aja lah ya. Sok teteh mau apa?” Dan Teh Anipun langsung semangat minta kado yang… yayaya. Heuheu.

Beberapa hari lalu juga teman di kantor bertanya:

“Kok bisa barengan gitu sih Teh? Tapi nanti teteh dateng kan ke nikahan Teh Fika?” tanyanya. Ini lebih sulit. Secara Teh Fika nikah 2 hari jelang saya menikah, di Bandung pula. Sementara saya udah ngetem di Indramayu sepekan sebelum menikah.

Ya Allah.. Pingin pisan padahal mah jadi braidsmaid buat dua sahabat saya itu. Tapi ya gimana lagi?

 

Advertisements

Jangan Berterima Kasih

Sudah jam 22.00 WIB. Saya sudah mengantuk, tapi masih banyak tugas yang harus diselesaikan sebelum ayam berkokok besok pagi. Dan juga, malam itu saya menunggu seorang kawan. Dua hari yang lalu ia mengabari akan singgah dan menginap di kontrakan saya. Saya taksir, ia akan sampai beberapa menit lagi. Dan memang seperti itu juga kenyataannya.

Tentu saya bahagia bisa melihatnya lagi. Terakhir kali, kami berjumpa di Bandung dan bersama-sama mengikuti sebuah workshop mendongeng. Tapi apa yang terjadi selanjutnya adalah, muncul sebentuk perasaan agak aneh dalam hati saya. Sudah dari “sananya” saya biasa berjalan cepat. Namun kawan saya ini beberapa kali berhenti, tampak mengatur nafas sambil memegang dadanya.

Hal lainnya yang membuat saya makin merasa sesak adalah saat melihat ia terkejut mengetahui bahwa saya tinggal di lantai dua.

“Saya nggak bisa naik tangga, Ntan.” begitu ujarnya. Oh my God! Lalu bagaimana? Hari sudah makin malam dan saya tidak punya alternatif apa-apa selain menunggunya siap untuk menjejak anak tangga pertama. Berhasil. Langkah-langkah selanjutnya ia coba, namun berkali-kali berhenti dan baru menyelesaikan semua anak tangga itu setelah sepuluh menit berlalu. Saya tidak pernah tahu kalau persoalan naik tangga adalah persoalan yang sulit baginya. Ah, harusnya sudah saya katakan sejak ia berkata hendak datang ke kontrakan. >.<

“Ntan, makasih ya. Tahun 2012 saya sempat nggak tahu harus ngapain seandainya saya resign dari kerjaan. Tapi sejak ada BBC dan BBC dipindah ke rumah, saya justru bersyukur. Seenggaknya ketika saya nggak bisa pergi kerja lagi, saya punya banyak waktu buat ngurus BBC, jadi BBC bisa buka tiap hari buat anak-anak.”

No way! Saya tidak suka dia berkata seperti itu. Apa maksudnya? Saya tidak paham sampai kemudian ia bercerita tentang kondisi jantungnya yang terus melemah karena katupnya tidak berfungsi sempurna hingga membuat salah satu bilik jantunya mengalami kardiomegali. Ini hal serius, kan?

“Allah tuh emang udah ngatur ya Ntan. Allah siapin semuanya bahkan sebelum saya nge-drop lagi begini. Iya, disiapin sesempurna mungkin. Allah nyiapin BBC supaya saya punya aktivitas seandainya harus tinggal seharian di rumah.”

Tapi saya punya perspektif lain. Lalu muncullah ingatan setahun yang lalu saat kami kembali bertemu dan memutuskan membangun sebuah taman bacaan bersama-sama yang kami namai BBC. Ia jelas terlibat lebih banyak dibanding saya. Karena BBC kami bangun di Indramayu dan ia tinggal di Indramayu, maka amanahnya lebih dari apa yang bisa saya kerjakan dari Bandung. Saya merasa terlalu membebani dia tanpa saya tahu bagaimana kondisi kesehatannya beberapa tahun ke belakang.

Semalaman, ia tidak bisa tidur dengan nyaman. Berkali-kali mengeluh punggungnya sakit dan berkali-kali pula ia menyusun tumpukan bantal agar bisa tidur dengan nyaman. Paginya, semula kami akan pergi ke dokter bersama-sama sesuai dengan apa yang ia bilang sebelum datang. Namun setelah saya bersiap, ia bilang

“Ntan kerja aja. Saya nggak siap turun tangga euy. Besok aja ke dokternya bareng sama temen yang lain.”

Dan sore kemarin, saya tidak bisa lagi menahan rasa yang berkecamuk di hati saya. Ia kembali berterima kasih untuk semua hal yang saya lakukan. Saya tidak layak diberi terima kasih. Setiap kali pulang ke Indramayu, saya selallu merepotkan dia, begitupun kejadian tangga itu. Apanya yang layak diberi terima kasih?

Tolong jangan begitu, ya?