Jurnal Pernikahan #5: Persyaratan Mendaftar ke KUA

H-21 jelang D-Day

Sepekan ke belakang, rasanya banyak sekali hal yang ingin saya tulis. Banyak sekali. Namun apa daya, kondisi saya juga agak riweuh (alasan) dan jaringan internet sepekan lalu tidak selancar sekarang (alasan lagi). Anyway, ayo kita cerita-cerita lagi!

Jadi mungkin cerita sepekan lalu akan saya bagi jadi beberapa bagian berhubung saya lagi punya banyak stok cerita (ceile, tumben!). Kita mau mulai dari mana dulu? Dari pertanyaan teman saya dulu aja mungkin ya?

One day, a friend of mine asked: Ntan, emang kalau mau nikah, syaratnya apa aja?

Rasanya pingin banget saya jawab: syaratnya cuma empat kalau menurut rukun nikah sih…

Pertama, ada calon pengantin (laki-laki dan perempuan)

Kedua, ada wali

Ketiga, ada dua orang saksi

Keempat, ijab qobul alias akad nikah.

Selesai, tamat.

Tapi pastinya kawan saya itu bukan nanya soal rukun ya, tapi ke hal-hal administratif berhubung negara kita adalah negara hukum. Jadi kaitannya pasti soal gimana sih daftar ke KUA?

Sepengalaman saya dan Abang tempo hari, hal pertama yang kami lakukan adalah datang ke kantor kelurahan atau desa masing-masing. Di situ, kami tanya apa aja sih syarat nikah untuk diajukan ke KUA. Maklum, kami ngurus sana sini sendiri, jadi langsung todong ke desa dan kelurahan. Akhirnya, dari kunjungan kami itu, kami dapat daftar dari Pak Lebe seperti ini:

  1. Surat numpang nikah (ini khusus untuk calon mempelai laki-laki, mintanya ke RT RW setempat)
  2. Surat pengantar dari RT dan RW (untuk keduanya)
  3. Surat keterangan belum pernah menikah (untuk keduanya, dibubuhi materai Rp 6000,-)
  4. Fotokopi KTP dan KK (untuk keduanya)
  5. Fotokopi ijazah terakhir (untuk keduanya)
  6. Fotokopi KTP wali (khusus untuk calon mempelai perempuan)
  7. Pas foto 2×3 4 lembar (untuk keduanya)
  8. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 600.000,- (melalui bank)

Sebetulnya itu saja sih. Yang perlu diperhatikan adalah tanggal pernikahan kita. Jangan sampai jarak antara kita mendaftar ke KUA dengan waktu pendaftaran pendek sekali. Kemarin, berhubung kami tinggal di kota kecil, maka sebenarnya kami masih bisa mendaftar di H-14. Tapi kami nggak mendaftar semepet itu sih.

Setelah semua berkas komplit, maka berkas itu bisa langsung diantar ke kantor kelurahan atau desa untuk dapat pengantar. Kalau sudah selesai semuanya, bisa langsung mendaftar ke KUA. KUA mana? KUA setempat, yang sesuai dengan lokasi atau wilayah akan dilangsungkannya pernikahan.

Sesederhana itu sih sebetulnya.

Sementara segitu dulu ya ceritanya, bakda isya in syaa Allah disambung lagi~

 

Moga ada manfaatnya yaa buat para calon pengantiiin ❤

 

Advertisements

Jurnal Pernikahan #4: Apa yang Disiapkan?

H-49 jelang D-Day

Dalam perjalanan dari Indramayu ke Bandung, seorang kawan mengirim pesan singkat:

“Ntan, nulislah tentang persiapan nikahannya. Dari acara lamaran sampai sekarang.”

Well, dia belum cek blogpost saya rupanya. Ya memang sih baru empat kali ini menulis soal Jurnal Pernikahan dan nggak spesifik ngulik printilan a-z tentang what a wedding should be. Ya kita mengalir ajalah ya, kalau ada ide, baru nulis. Wehehe.

Jadi dalam beberapa bulan persiapan, saya baru kemarin banget ketemu sama Mas Tio, katakanlah, WO untuk pernikahan saya dan Abang. Nggak nyangka juga kalau di Indramayu ada juga jasa WO. Herannya, pas ketemu Mas Tio, dia nyantai wae padahal tinggal 50 hari jelang D-Day kami berdua. Mungkin karena kaminya juga kelihatan santai dan nggak banyak request ini-itu kali ya? Maybe.

Kalau kamu sedang menyiapkan pernikahan, ada baiknya memang pakai jasa wedding organizer atau kalau masih mau terlibat banyak di hal ini-itu, pakailah wedding planner. Buat saya dan Abang, kami merasa sangat terbantu dengan kehadiran Mas Tio. Soal biaya? Seadanya kocek aja. Bisa disesuaikan sih. Yang kami lakukan, syukurnya, banyak dapat bantuan dari sana-sini. Alhamdulillaah banyak banget yang ngebantu. Terharuuuu~

Ya asal itu tadi sih, nggak banyak printilan yang sebetulnya bisa dihilangkan. Memang sih, pernikahan adalah momen sakral yang kayaknya kudu banget dibuat istimewa. Setuju sih. Tapi saya lebih sepakat hal-hal yang istimewa adalah setelahnya. Iya setelahnya seperti: bagaimana mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah. Aduh serius banget sih Tan… Tapi beneran deh, justru hal terakhir itu yang sering banget hadir di pikiran saya.

Rasanya waktu cepat banget berlalunya. Setelah lamaran bulan Agustus lalu, saya masih ngerasa masih punya buanyak banget waktu buat prepare, ya ngebangun mentally prepared buat ganti status sebagai istri dan in syaa Allah sebagai seorang ibu. Saya masih punya waktu empat bulan buat baca buku tentang pernikahan dan buat tanya ini itu ke orang yang lebih senior dalam hal rumah tangga. Nyatanya sekarang, saat waktu yang saya punya tinggal satu setengah bulan, saya ngerasa NOL BESAR dalam mempersiapkan mental saya. Seberapa banyakpun buku yang saya baca tentang pernikahan, rasanya masih aja kurang sreg, kurang cukup. Haduh manusia.

Tapi trust me, baca buku banyak tentang pernikahan itu perlu. Seenggaknya kita jadi tahu hak dan kewajiban sebagai pasangan, juga untuk mempersiapkan diri menghadapi satu diri yang punya karakter jauh berbeda dengan kita. Siap gitu nerima pasangan kita dalam satu paket lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya? Yakin siap? Sejujurnya sampai saat inipun saya masih nggak terlalu yakin kalau saya bisa sedewasa itu untuk menerima calon pasangan. Apalagi kami belum lama kenal dan saya mengenalnyapun masih sebatas itu.

Ada saran dari seorang kawan yang saya pikir baik buat saya bagi di sini. Dia bilang: once saya nikah, haram bagi saya hukumnya buat ngomongin keburukan pasangan saya ke orang lain, kalau setelah itu di rumah saya masih nggak mau lepas dari pasangan. Dan saya pikir ini berat apalagi lihat banyak dari kita sudah terbiasa banget update semua jenis perasaan di media sosial. Waduh berabe deh. Jadi rasanya sebelum menikah, kita juga perlu bisa membedakan, mana hal yang perlu dibagi ke publik atau yang cukup disimpan sendiri. Ini berat buat saya yang hobinya nulis dan hangout bareng teman. Duh Gusti, paringono kemampuan buat menjaga lisan…

Ah, jadi ingat juga sekira 5 tahun lalu saya pernah menulis “Sudikah Aku Menikahi Diriku?” yang isinya tentang, sebelum memutuskan untuk menikah dengan orang lain yang pasti buanyak sekali perbedaannya, apakah kita siap untuk menerima diri kita secara utuh, penuh, ikhlas dan tanpa beban? Jadi inilah yang buat saya paling mendasar dibanding persiapan pesta syukuran: bagaimana kita bisa dewasa dan matang untuk bisa menerima diri kita dan calon pasangan dalam kerangka ibadah. Duh yaa Gusti… Bismillaah.

Karena menikah bukan soal memenuhi sunnah semata, apalagi soal hepi hepi karena ada yang akhirnya nanyain kabar kamu hampir setiap waktu.

Jurnal Pernikahan #3: Soal Seserahan

H-52 jelang D-Day

Saya menulis postingan ini sambil tahan buat nggak ketawa ngakak dan sambil coba ilangin blushing yang muncul tiba-tiba. Ini semua gara-gara status facebooknya Arie! Duh Gusti, pakai nge-tag pula. But it’s ok lah. Silahkan, Rie, silahkan.

Jadi, sebetulnya saya mau nulis apa hari ini? Tunggu, saya lupa kan jadinya. Oh iya, saya mau nulis tentang hari-hari jelang pernikahan saya. *ya iyalah itu judul udah segede itu, Intan!

Suatu kali di hari Minggu yang galau karena langit sebelah utara udah gelap lagi mendung dan langit di atas saya terang benderang, duduklah seorang kawan karib. Sambil menyantap ayam bakarnya dengan lahap, ia bercerita dengan berapi-api.

“Duh, gue kan minta uang lagi ke calon gue buat beli seserahan ya.. tapi gue nggak enak…”

“Lho bukannya kemarin dikasih banyak tuh?”

“Iya sih, tapi kuraaaang… Kata temen gue, mumpung buat seserahan, belinya yang mahalan gitu, yang bagus.”

Deg.

Ya nggak masalah sih pilih-pilih barang buat seserahan. Tapi saya pribadi masih jadi orang yang punya prinsip: jangan membebani calon pasangan untuk soal remeh-temeh pernikahan. Masalahnya, saya juga sempat kecipratan omongan beberapa temen macam:

“Intan lu udah nyari baju tidur buat seserahan belum?”

“Intan geura dicicil beli buat seserahan. Kalau di entar-entar malah nggak kebeli lho…”

“Seserahan kamu apa aja sih?”

Eaaa… kalau boleh dibilang, saya ini tipe calon pengantin yang nggak repot. Secara, kebanyakan urusan pernikahan di-handle Abang dan keluarganya di Indramayu sana. Sementara saya sementara tinggal di Bandung dan keluarga saya kebanyakan di Depok dan Sukabumi. Termasuk urusan seserahan, saya juga agak nggak terlalu peduli. Selama mahar ada, cukup lah ya… Meski Abang juga ternyata mikirin seserahan buat saya. Haha. Feel like a princess si gue.

Demi postingan ini, dari semalem saya nanya dalam hati: emang harus ya ada seserahan?

Ingatan saya tertuju ke dua atasan saya di kantor. Mereka berdua sukses menikah tanpa seserahan dan alhamdulillaah masih langgeng. Dan kalau menurut Bapak (sohibnya almarhum Bapak saya), rukun nikah ya cuma ada calon pengantin (laki-laki dan perempuan), ada wali, ada saksi, daaaaan ijab qobul. Done. Selebihnya?

Ya selebihnya sih adat yang udah mengakar sampai sulit dihilangkan dari suatu prosesi pernikahan. Bener nggak? Gitu sih yang saya baca mah. Ya kalau mahar mah, Rasul juga ngasih contoh ya, tapi kalau seserahan, saya belum nemu euy literaturnya. Ada yang bisa kasih tahu nggak?

Balik lagi ke awal, ke teman saya yang asyik cerita sambil makan itu.

“Gue kan cerita ke temen kalau gue beli tas buat seserahan yang harganya di bawah cepek, eh mereka bilang, ya elah beli buat seserahan yang mahalan napa sih… Cari coba yang 300an. Akhirnya gue beli dah tuh tas yang harganya 300an. Jadi gue keabisan uang buat beli seserahan dan tas buat seserahan akhirnya ada 2.”

“Lu beli lagi? Buset dah… sayang ih. Mending nggak usah cerita-cerita sih ke temen soal persiapan nikah kita. Cerita sekedarnya aja lah biar nggak pusing. Mending kitanya nggak kepengaruh, kalau kepengaruh kan gini nih ceritanya. Lha wong yang nikah kita kok. Suka-suka kita mau kayak gimana juga.”

Gemes deh bener sama orang-orang, biasanya sih teman, yang kepo banget sama urusan nikah kita. Ya nggak masalah sih sebenernya, tapi kalau udah masuk ke ranah yang sampai komentar ini-itu dan ngebandingin antara kondisi dia dan kondisi kita terus ngomong pakai jurus “harusnya tuh gini, harusnya kan gitu…”. Kalau sampai ngikutin apa kata mereka, done deh urusan nikah kita.

Inget, kita yang tahu gimana kondisi kita, kondisi calon pasangan kita. Nggak usah maksain harus sesuai apa kata orang kalau memang kitanya nggak mampu.

Kita dan calon pasangan lho yang memutuskan bagaimana baiknya pernikahan kita nanti, bukan orang lain. Kalau keluarga sih masih oke lah.

Jangan menyulitkan perkara pernikahan ya, shalihah…

Bismillaah, semoga diliputi berkah.

 

Jurnal Pernikahan #1 : Pertanyaan-Pertanyaan

H-56 menjelang D-Day

Malam itu, waktu saya baru buka pintu rumah kost-an, saya dihadang oleh adik-adik kostan. Mereka memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan. Saya anggap ini interogasi. Iya, interogasi, karena mereka memberi saya pertanyaan yang bertubi-tubi. Pertanyaan soal benarkah saya akan menikah bulan depan.

Saya memang nggak menyengajakan diri bercerita ke penduduk kostan 65/24B itu bahwa saya akan menggenapkan separuh dien (ceile). Saya memilih untuk mengabari mereka tepat ketika undangan sudah selesai dicetak. Tapi ternyata, telinga mereka lebih tajam dari yang saya kira. Atau tembok kost-an yang emang  punya mulut ya, jadi kesebar semua gitu? Heuheu. Maka kabar saya akan menikah langsung menyebar dari lantai dua (kamar saya) ke lantai bawah. Dan mereka menuntut saya untuk cerita.

Pertanyaan pertama:

“Kapan, Teh?” Ini pertanyaan yang paling standar sih. Kebanyakan orang emang langsung nodong waktu.

“Eh kok akhir tahun banget sih Teh.. Biar tahun baru langsung status baru ya? Atau tahun barunya sekalian honeymoon?” Beberapa orang juga menduga seperti itu. Padahal… Ah, mereka nggak tau aja cerita dibalik pemilihan tanggal akhir tahun itu. Status baru? Ya memang kami berdua punya goal tahun ini kami harus menikah, eh ndilalah-nya ya emang kesampaian walau di akhir tahun banget. Honeymoon? Bagian ini belum pernah mampir di pikiran kami. Ish, udah bisa ngehalalin aja udah alhamdulillaah banget. Honeymoon mah bisa setiap hari, selamanya kali ya? Aamiin.

“Sama siapa Teh?” Ya sama lelaki lah, alhamdulillaah. Hehe. Sewaktu saya bilang kalau Abang orang Indramayu, responnya biasanya begini: “Kok orang Indramayu dipanggil Abang sih?” “Eh alhamdulillaah atuh ya, sesuai sama doa kamu selama ini”, “Ya syukur, jadi bisa pulang kampung ya…”, “Rumah jadi berpenghuni dong nanti!”. Yayaya. Hampir dua tahun ini rumah keluarga saya di Indramayu memang dibiarkan kosong nggak ditempati. Berhubung Mamah yang memutuskan tinggal dengan kakak di Depok dan adik yang juga udah mulai kuliah.

“Eh kok bisa? Gimana ceritanya tau-tau udah mau nikah aja… Nggak keliatan ih.” Ini nih yang dikomentarin adik-adik kostan. Secara si saya dikenal alim dan workaholic yang berangkat subuh pulang malem terus. Kapan pacarannya? Gimana ceritanya? Lha wong nggak pernah lihat ada lelaki yang mampir ke kostan. Jadi di bagian inilah cerita saya malam tadi difokuskan. Emang kepo banget sih mereka. Tapi bagian gimana ceritanya saya ujug-ujug mau nikah nanti lah ya saya cerita di hari lain, di blogpost yang akan datang. *penting banget*

Dan pertanyaan lain yang sebetulnya sering ditanyain juga adalah “Gimana caranya kok bisa yakin?” Hmm, gimana ya jawabnya? Bagian ini nih yang kadang kala butuh jawaban yang agak diplomatis dan panjang karena pasti akan merembet ke hal-hal lainnya seperti: “Hasil istikhorohnya via mimpi ya?”, “Gimana sih doa istikhoroh?”, “Tandanya dia jodoh kita emang apa?”. Duh ya, yang ditanya aja baru kali ini ngalamin hal kayak gitu, jadi jelaslah pengalamannya nggak bisa digeneralisasi.

Dan malam itu, dari yang semula ajang interogasi, tiba-tiba berubah jadi ajang konsultasi. Konsultasi tentang menghilangkan ketakutan menghadapi pernikahan, tentang laki-laki, tentang usia ideal untuk menikah, ah semua aja dikonsultasikan. Agak lucu aja sih, secara adik-adik kostan ini umurnya masih 20-21 tahunan, yang memang lagi masa-masanya galau dan kepingin menikah. Pengalaman aja sih (lol), sewaktu seumur mereka juga saya pernah kok kayak gitu. Gerah begitu liat satu dua temen kuliah nikah saat proposal skripsi bahkan belum digarap, ikut seminar tentang pernikahan, sampai galau ketika ada yang mengajak serius menikah. Yang awalnya menargetkan usia 25 tahun untuk menikah hingga akhirnya malah kelupaan dan keasyikan sama dunia sendiri sampai umur 27 ini. Dan saya udah mulai insyaf lagi sadar, kalau perihal jodoh, emang udah diatur dengan maha baik dan tepat waktu oleh Allah. Tepat waktunya menurut Allah lho ya, bukan menurut hitungan kita yang kadang sa karepe dhewek dalam menentukan ukuran-ukuran takdir.

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Jadi, kita tinggal punya berapa hari sampai halal?

 

 

Next posting kita pakai foto-foto kali ya biar nggak garing lempeng begini postingannya. >.<