Jurnal Pernikahan #3: Soal Seserahan

H-52 jelang D-Day

Saya menulis postingan ini sambil tahan buat nggak ketawa ngakak dan sambil coba ilangin blushing yang muncul tiba-tiba. Ini semua gara-gara status facebooknya Arie! Duh Gusti, pakai nge-tag pula. But it’s ok lah. Silahkan, Rie, silahkan.

Jadi, sebetulnya saya mau nulis apa hari ini? Tunggu, saya lupa kan jadinya. Oh iya, saya mau nulis tentang hari-hari jelang pernikahan saya. *ya iyalah itu judul udah segede itu, Intan!

Suatu kali di hari Minggu yang galau karena langit sebelah utara udah gelap lagi mendung dan langit di atas saya terang benderang, duduklah seorang kawan karib. Sambil menyantap ayam bakarnya dengan lahap, ia bercerita dengan berapi-api.

“Duh, gue kan minta uang lagi ke calon gue buat beli seserahan ya.. tapi gue nggak enak…”

“Lho bukannya kemarin dikasih banyak tuh?”

“Iya sih, tapi kuraaaang… Kata temen gue, mumpung buat seserahan, belinya yang mahalan gitu, yang bagus.”

Deg.

Ya nggak masalah sih pilih-pilih barang buat seserahan. Tapi saya pribadi masih jadi orang yang punya prinsip: jangan membebani calon pasangan untuk soal remeh-temeh pernikahan. Masalahnya, saya juga sempat kecipratan omongan beberapa temen macam:

“Intan lu udah nyari baju tidur buat seserahan belum?”

“Intan geura dicicil beli buat seserahan. Kalau di entar-entar malah nggak kebeli lho…”

“Seserahan kamu apa aja sih?”

Eaaa… kalau boleh dibilang, saya ini tipe calon pengantin yang nggak repot. Secara, kebanyakan urusan pernikahan di-handle Abang dan keluarganya di Indramayu sana. Sementara saya sementara tinggal di Bandung dan keluarga saya kebanyakan di Depok dan Sukabumi. Termasuk urusan seserahan, saya juga agak nggak terlalu peduli. Selama mahar ada, cukup lah ya… Meski Abang juga ternyata mikirin seserahan buat saya. Haha. Feel like a princess si gue.

Demi postingan ini, dari semalem saya nanya dalam hati: emang harus ya ada seserahan?

Ingatan saya tertuju ke dua atasan saya di kantor. Mereka berdua sukses menikah tanpa seserahan dan alhamdulillaah masih langgeng. Dan kalau menurut Bapak (sohibnya almarhum Bapak saya), rukun nikah ya cuma ada calon pengantin (laki-laki dan perempuan), ada wali, ada saksi, daaaaan ijab qobul. Done. Selebihnya?

Ya selebihnya sih adat yang udah mengakar sampai sulit dihilangkan dari suatu prosesi pernikahan. Bener nggak? Gitu sih yang saya baca mah. Ya kalau mahar mah, Rasul juga ngasih contoh ya, tapi kalau seserahan, saya belum nemu euy literaturnya. Ada yang bisa kasih tahu nggak?

Balik lagi ke awal, ke teman saya yang asyik cerita sambil makan itu.

“Gue kan cerita ke temen kalau gue beli tas buat seserahan yang harganya di bawah cepek, eh mereka bilang, ya elah beli buat seserahan yang mahalan napa sih… Cari coba yang 300an. Akhirnya gue beli dah tuh tas yang harganya 300an. Jadi gue keabisan uang buat beli seserahan dan tas buat seserahan akhirnya ada 2.”

“Lu beli lagi? Buset dah… sayang ih. Mending nggak usah cerita-cerita sih ke temen soal persiapan nikah kita. Cerita sekedarnya aja lah biar nggak pusing. Mending kitanya nggak kepengaruh, kalau kepengaruh kan gini nih ceritanya. Lha wong yang nikah kita kok. Suka-suka kita mau kayak gimana juga.”

Gemes deh bener sama orang-orang, biasanya sih teman, yang kepo banget sama urusan nikah kita. Ya nggak masalah sih sebenernya, tapi kalau udah masuk ke ranah yang sampai komentar ini-itu dan ngebandingin antara kondisi dia dan kondisi kita terus ngomong pakai jurus “harusnya tuh gini, harusnya kan gitu…”. Kalau sampai ngikutin apa kata mereka, done deh urusan nikah kita.

Inget, kita yang tahu gimana kondisi kita, kondisi calon pasangan kita. Nggak usah maksain harus sesuai apa kata orang kalau memang kitanya nggak mampu.

Kita dan calon pasangan lho yang memutuskan bagaimana baiknya pernikahan kita nanti, bukan orang lain. Kalau keluarga sih masih oke lah.

Jangan menyulitkan perkara pernikahan ya, shalihah…

Bismillaah, semoga diliputi berkah.

 

Jurnal Pernikahan #2: Ketika Sahabat Juga Menikah di Bulan Yang Sama

ketika-kamu-dan-sahabatmu-menikah-di-waktu-yang-berdekatan

Trio yang kabur bareng ke Jogja. Sebut saja pesta lajang.

H-53 jelang D-Day

Tadi malam, seorang sahabat mengirim pesan lewat whatsapp. Dia minta pendapat soal kata-kata di desain undangan pernikahannya.

“Intan lagi di mana? Bantuin aku periksa redaksi undangan aku dong, kurang lebihnya di mana biar diedit..” Selepas itu dia kirim dua file foto undangan pernikahan dia. Damn, mirip lah dengan undangan saya. Warna dasar putih, kata-katanya hampir mirip. Duh yaa.. Hahaha.

“Halah gubrak… kenapa itu belakangnya samaaaaaa…?” dia akhirnya teriak begitu di whatsapp. Yaelah, bener. Sama persis.

“Ih teteh nyontek ya? Da lengkapan saya kalimatnyapun.” yang kami bahas adalah do’a Rasulullaah ketika menikahkan putrinya Fatimah dengan Sayyidina Ali. Iya, kami mencantumkan do’a nan indah itu di bagian belakang undangan kami. Lalu kamipun tertawa.

“Teh, grup Jogja udah nggak ada ya?” tanya saya yang tiba-tiba teringat kalau saya, Teh Fika (yang sedang asyik ngobrolin undangan ini) dan Teh Ani pernah melakukan perjalanan ke Jogjakarta bulan April lalu dengan status sama-sama single. Lalu bulan Desember besok, kami bertiga juga sama-sama melepas status single itu. WHAT?

Allah emang nggak pernah secara kebetulan buat skenario untuk hidup kita. Kalau terlihat begitu kebetulan macam ini, ya sebetulnya sih rencana Allah itu udah fiks acc oke dari kapan tau kalau saya, Teh Fika, dan Teh Ani harus menikah di bulan yang sama. Kami bertiga sempat kaget juga sih awalnya. Secara, saya sama Teh Ani sering pergi bareng dan Teh Ani termasuk golongan asabiqunal awwalun yang tahu proses saya dengan Abang sejak Mei lalu. Bulan Juni, Teh Ani sempat curhat ketika kami sedang buka puasa bersama di Domin*s:

“Intan, kapan aku ketemu jodoh aku?”

Allah Maha Baik. Nggak berapa lama di pekan kesekian Ramadhan (nggak ingat tepatnya), Teh Ani cerita kalau sebuah proposal ditawarkan kepadanya. Wih! Kontan! Dengan dorongan sana-sini, akhirnya mengalirlah proses ta’aruf antara Teh Ani dengan calonnya itu.

Kembali ke kantor pasca libur lebaran yang cukup lama, ketika sedang makan bakso di pinggir jalan dengan Teh Fika, sebuah kabar baikpun mampir ke telinga: Teh Fika sudah DILAMAR! Uwow!

Dan cerita selanjutnya pun mengalir: Teh Ani dilamar dan terakhir, saya lah yang dilamar. Lalu terjadilah celetukan antara saya dan Teh Ani, juga antara saya dan Teh Fika:

“Atuhlah, jangan-jangan pada Desember semua. Kalau di Desember semua plis jangan samaan tanggalnya.”

Lalu alurnya pun jadi begini: Teh Ani menikah di pekan pertama, Teh Fika dan saya menikah di pekan terakhir bulan itu.

“Kamu dateng kan Tan ke nikahan aku?” tanya Teh Ani. Saya ragu juga jawabnya. Duh ya, wong ini juga lagi nabung-nabung buat nikahan diri sendiri. Kalau dateng ke nikahan Teh Ani yang di Palembang sono rada repot juga atur budget-nya.

“Aku ngasih kado aja lah ya. Sok teteh mau apa?” Dan Teh Anipun langsung semangat minta kado yang… yayaya. Heuheu.

Beberapa hari lalu juga teman di kantor bertanya:

“Kok bisa barengan gitu sih Teh? Tapi nanti teteh dateng kan ke nikahan Teh Fika?” tanyanya. Ini lebih sulit. Secara Teh Fika nikah 2 hari jelang saya menikah, di Bandung pula. Sementara saya udah ngetem di Indramayu sepekan sebelum menikah.

Ya Allah.. Pingin pisan padahal mah jadi braidsmaid buat dua sahabat saya itu. Tapi ya gimana lagi?

 

Jurnal Pernikahan #1 : Pertanyaan-Pertanyaan

H-56 menjelang D-Day

Malam itu, waktu saya baru buka pintu rumah kost-an, saya dihadang oleh adik-adik kostan. Mereka memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan. Saya anggap ini interogasi. Iya, interogasi, karena mereka memberi saya pertanyaan yang bertubi-tubi. Pertanyaan soal benarkah saya akan menikah bulan depan.

Saya memang nggak menyengajakan diri bercerita ke penduduk kostan 65/24B itu bahwa saya akan menggenapkan separuh dien (ceile). Saya memilih untuk mengabari mereka tepat ketika undangan sudah selesai dicetak. Tapi ternyata, telinga mereka lebih tajam dari yang saya kira. Atau tembok kost-an yang emang  punya mulut ya, jadi kesebar semua gitu? Heuheu. Maka kabar saya akan menikah langsung menyebar dari lantai dua (kamar saya) ke lantai bawah. Dan mereka menuntut saya untuk cerita.

Pertanyaan pertama:

“Kapan, Teh?” Ini pertanyaan yang paling standar sih. Kebanyakan orang emang langsung nodong waktu.

“Eh kok akhir tahun banget sih Teh.. Biar tahun baru langsung status baru ya? Atau tahun barunya sekalian honeymoon?” Beberapa orang juga menduga seperti itu. Padahal… Ah, mereka nggak tau aja cerita dibalik pemilihan tanggal akhir tahun itu. Status baru? Ya memang kami berdua punya goal tahun ini kami harus menikah, eh ndilalah-nya ya emang kesampaian walau di akhir tahun banget. Honeymoon? Bagian ini belum pernah mampir di pikiran kami. Ish, udah bisa ngehalalin aja udah alhamdulillaah banget. Honeymoon mah bisa setiap hari, selamanya kali ya? Aamiin.

“Sama siapa Teh?” Ya sama lelaki lah, alhamdulillaah. Hehe. Sewaktu saya bilang kalau Abang orang Indramayu, responnya biasanya begini: “Kok orang Indramayu dipanggil Abang sih?” “Eh alhamdulillaah atuh ya, sesuai sama doa kamu selama ini”, “Ya syukur, jadi bisa pulang kampung ya…”, “Rumah jadi berpenghuni dong nanti!”. Yayaya. Hampir dua tahun ini rumah keluarga saya di Indramayu memang dibiarkan kosong nggak ditempati. Berhubung Mamah yang memutuskan tinggal dengan kakak di Depok dan adik yang juga udah mulai kuliah.

“Eh kok bisa? Gimana ceritanya tau-tau udah mau nikah aja… Nggak keliatan ih.” Ini nih yang dikomentarin adik-adik kostan. Secara si saya dikenal alim dan workaholic yang berangkat subuh pulang malem terus. Kapan pacarannya? Gimana ceritanya? Lha wong nggak pernah lihat ada lelaki yang mampir ke kostan. Jadi di bagian inilah cerita saya malam tadi difokuskan. Emang kepo banget sih mereka. Tapi bagian gimana ceritanya saya ujug-ujug mau nikah nanti lah ya saya cerita di hari lain, di blogpost yang akan datang. *penting banget*

Dan pertanyaan lain yang sebetulnya sering ditanyain juga adalah “Gimana caranya kok bisa yakin?” Hmm, gimana ya jawabnya? Bagian ini nih yang kadang kala butuh jawaban yang agak diplomatis dan panjang karena pasti akan merembet ke hal-hal lainnya seperti: “Hasil istikhorohnya via mimpi ya?”, “Gimana sih doa istikhoroh?”, “Tandanya dia jodoh kita emang apa?”. Duh ya, yang ditanya aja baru kali ini ngalamin hal kayak gitu, jadi jelaslah pengalamannya nggak bisa digeneralisasi.

Dan malam itu, dari yang semula ajang interogasi, tiba-tiba berubah jadi ajang konsultasi. Konsultasi tentang menghilangkan ketakutan menghadapi pernikahan, tentang laki-laki, tentang usia ideal untuk menikah, ah semua aja dikonsultasikan. Agak lucu aja sih, secara adik-adik kostan ini umurnya masih 20-21 tahunan, yang memang lagi masa-masanya galau dan kepingin menikah. Pengalaman aja sih (lol), sewaktu seumur mereka juga saya pernah kok kayak gitu. Gerah begitu liat satu dua temen kuliah nikah saat proposal skripsi bahkan belum digarap, ikut seminar tentang pernikahan, sampai galau ketika ada yang mengajak serius menikah. Yang awalnya menargetkan usia 25 tahun untuk menikah hingga akhirnya malah kelupaan dan keasyikan sama dunia sendiri sampai umur 27 ini. Dan saya udah mulai insyaf lagi sadar, kalau perihal jodoh, emang udah diatur dengan maha baik dan tepat waktu oleh Allah. Tepat waktunya menurut Allah lho ya, bukan menurut hitungan kita yang kadang sa karepe dhewek dalam menentukan ukuran-ukuran takdir.

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Jadi, kita tinggal punya berapa hari sampai halal?

 

 

Next posting kita pakai foto-foto kali ya biar nggak garing lempeng begini postingannya. >.<