To My Dearest Future Self

Halo, bagaimana kabarmu? Bagaimana kondisi bumi saat kamu menerima surat ini? Ah, aku hanya terkenang Dunia Anna, buku yang beberapa waktu lalu sempat kubaca dan kutulis reviewnya di sini. Sudahkah kamu miliki hidup yang kamu impikan? Hm, tampaknya itu pertanyaan yang membosankan, ya? Tapi, apakah kamu sudah begitu mengenal Tuhan saat surat ini sampai kepadamu- ketika tiba-tiba saja kamu teringat pernah menulis sesuatu untuk dirimu sendiri di masa depan. Kuharap, saat surat ini sampai, kamu tidak lagi main-main dnegan hidupmu. Setidaknya, kamu sudah memiliki suami yang membimbingmu mengenal Tuhanmu dan memiliki satu atau dua anak yang kamu dampingi tumbuh kembangnya. Tiba-tiba saja aku menjadi merinding ketika membayangkan bagaimana kamu di masa yang akan datang.

Hei, baik-baik sajakah semuanya? Apa kamu sudah deal dengan dirimu sendiri dan tidak lagi flight? Sudahkah kamu, setidaknya, memenangkan dirimu sendiri dari banyaknya jeratan yang selama ini menghimpitmu? Tentu saja sudah, iya kan? Karena kamu kini mengenal Tuhanmu sepenuh hati, dengan segenap kesadaranmu. Kamu tidak lagi lari karenanya. Dan karena itu juga, kamu lebih terbuka dan jujur pada dirimu sendiri dan memiliki konsep diri yang positif, transenden dengan kebutuhan-kebutuhan spiritualmu. Semoga.

Ah, entahlah aku harus berkata apa lagi. Tapi semoga, di usiamu yang sekarang, kamu sudah mewujudkan impian-impianmu. Bintang Book Corner, atau upaya pengabdianmu pada masyarakat. Atau mungkin menjadi guru? Konselorkah? Atau justru wartawan, penulis buku dan penjelajah yang telah menapaki banyak dari daratan-daratan dunia? Semoga ketika kita bertemu nanti, kita memang sudah lengkap; setidaknya seimbang dalam kehidupan dunia dan akhirat. Semoga. Semoga Allah SWT melindungimu selalu.

Salam sayang,

Kuswointan, jelang 26 tahun.

Advertisements

Ketika Sedang di Supermarket

Beberapa waktu lalu, saya pergi ke supermarket dengan beberapa orang kawan. Saya tidak berniat membelanjakan uang. Hanya saja, saya ikut nebeng motor kawan, jadi saya ikut saja kemana dia pergi. Namun di supermarket, saya tergoda juga membeli detergent karena setelah diingat-ingat, stoknya sudah habis. Selebihnya, saya hanya berkeliling. Kawan saya ada di lorong bagian sabun, kawan lainnya asyik di lorong makanan. Saya ada di lorong sayuran segar ketika salah satu dari mereka menghampiri.

“Kamu beli tofu, Tan? Nggak usah, di rumah saya ada. Ntar kita masak tofunya.” begitu yang dia bilang saat melihat saya memegang sebungkus tofu. Saya langsung menaruh lagi si tofu, bukan karena kata-kata kawan saya, tapi karena saya memang nggak berniat beli. Sayapun pindah ke bagian sayuran, memegang sayur hijau apalah itu namanya karena baru pertama kali saya lihat sayur macam itu.

“Eh, di rumah saya punya pokcoy. Udah ntar kita masak pokcoy aja. Lebar euy…” dia kembali memberi respon yang membuat saya kembali menaruh sayuran entah apa namanya itu pada tempatnya semula. Sekali lagi, bukan karena memilih “nurut” pada kawan, tapi saya memang cuma tertarik dengan sayuran itu. Di bagian keju, saya berhenti agak lama. Mengambil satu bungkus keju edam, mengamatinya, menaruhnya lagi di rak. Lalu mengambil keju parmesan, mengamatinya dan menyimpannya lagi. Lalu mengambil keju mozarella dengan beberapa merk. Melihatnya satu persatu saat teman saya menghampiri.

“Apaan?” tanyanya.

“Keju.”

“Oh… mau?”

“Nggak. Ini keju ada yang ada label halalnya, ada yang nggak. Ada yang buatan luar negeri, ada yang dibuat di Sukabumi, produk lokal. Keren ya Indonesia!” sahut saya.

“Masa?” tanyanya.

“Iya! Nih liat!” saya menunjukkan produsennya.

“Iih ya, si Intan meuni segitunya.”

Nya atuh da baca. Baca mah apa aja, di mana aja. Hehe.” setelah ucapan saya terakhir itu, saya dan kawan saya berpisah. Dia kembali ke rak makanan sementara saya mulai asyik dengan aneka macam susu. Dan ketika kami bertemu kembali di rak coklat, dia bilang

Heu-euh Tan! Ada benernya juga kamu! Ternyata baca mah bisa apa aja, termasuk baca bungkus-bungkus makanan kayak gini. Liat deh, produk ini ternyata belum ada label halalnya padahal bahan bakunya halal semua!”

Dan masih banyak hal yang seringkali luput untuk di-“baca”.

Kuswointan, (sedang coba) senang baca.

I Choose so I’m Not Loose

Dear friends,

Beberapa bulan terakhir, saya mengalami kegamangan yang berujung pada ketidakproduktifan saya dalam mengejar momen lewat lensa kamera, ketidakmampuan saya untuk membuat perjalanan, dan ketidakpekaan saya untuk menulis kejadian. Ini menyiksa sekali. Writers block. Blog saya di laman yang lain hanya diisi celotehan hambar tentang kejadian keseharian. Lebih seperti self-report, bagaimana saya melapor pada diri sendiri. Ok, I have to finish it now!

Awal tahun depan -semoga saya diberi kesempatan untuk sampai di tahun depan- , saya akan kembali belajar menulis, juga memotret. Tolong doakan. Dan, saya akan kembali mengisi rumah virtual saya ini dengan beronggok cerita atau hasil pandangan mata. Ini pilihan. Pilihan agar saya bisa tetap ada, seperti yang diungkap oleh Descartes, cogito ergo sum. Saya perlu banyak berpikir tampaknya. Perlu banyak berpikir dan mengindar dari keributan di luar kedirian saya. Ah, semoga Allah SWT senantiasa membimbing saya.

Jadi, sampai jumpa! Saya akan lebih rewel menuangkan hasil olahan pikiran saya di sini, jangan bosan ya. 🙂

Salam,

Kuswointan, penyuka udara.