Mengukur Diri Lewat Reading Challenge

It’s never too late to open a book and read it!

Terus terang saja, alih-alih suka baca buku, saya lebih suka mengumpulkan buku. Ini jujur lho, jujur sejujur-jujurnya. Rasanya ada kepuasan ekstra kalau lihat setumpuk atau sehamparan buku di kamar, meski ya… sebagian besar mungkin belum sempat dibaca isinya.

Sampai suatu ketika, saya merasa tidak enak juga. Pertama, tidak enak karena terus menimbun buku (walau jumlahnya belum seberapa) lalu membiarkannya menganggur begitu saja. Kedua, saya sedang semangat memulai proyek taman bacaan. Pengurus taman bacaan nggak suka baca? Kok ya rasanya non-sense ya? Untuk alasan kedua inilah saya mulai membiasakan baca buku, sedikit demi sedikit. Ya, kalaupun dulu saya juga baca buku, tapi setidaknya sekarang intensitasnya harus sedikit ditambahlah. Sedikit saja, nyadar diri.

Saya memulainya awal tahun 2015 ini. Saya perhatikan beberapa teman yang memang brilian sekali minat bacanya, ternyata memiliki target buku yang harus dibaca dalam jangka satu tahun. Ada yang memasang target 50-60 judul buku dalam setahun bahkan! Amazing! Sugoi! Saya tengok ke lubuk hati saya sendiri, dengan limit waktu kira-kira 365 hari itu, apa saya mampu baca sebanyak teman saya? Rasanya kok ya agak mustahil ya? *plak!

Akhirnya, berhubung tahun ini saya sedang menjemput usia saya ke dua puluh enam *ketauan deh umur saya sebenarnya, alamaaak!*, saya putuskan tahun ini saya harus bisa membaca 26 judul buku dari genre yang berbeda. Biar ada variasi karena sesungguhnya minat saya kalau tidak novel ya cerpen. Kalau tidak cerpen ya puisi. Mentok. Titik. Supaya tidak lupa, saya pasang target itu di akun Goodreads saya. Ya ya kamu benar! Goodreads memang suka menantang penggunanya untuk membuat target membaca. Selain di Goodreads, saya juga memasang note di desktop netbook saya yang isinya judul buku yang sudah selesai dibaca. Sengaja, biar ketahuan progresnya.

Pada awalnya saya semangat. Mungkin sama semangatnya ketika baru pertama kali membuat resolusi di awal tahun baru yang biasanya lama-lama kempes seiring waktu, semangat dan kapasitas memori yang overload. Dalam satu bulan, saya berhasil menyelesaikan dua sampai tiga judul buku. Gila! Saya salut sendiri sama semangat saya waktu itu! Lama-kelamaan, kerjaan makin menumpuk yang sebenarnya hanya alasan yang diada-adakan saja. Paling banter saya hanya selesai baca satu judul buku saja. Hal ini semakin parah ketika saya sadar kalau saya sedang terjangkit penyakit akut: demam Drama Korea. Oo God! Saya benar-benar lepas kendali. Stok judul drama jadi lebih banyak dari stok judul buku dan terus saja diisi ulang. Mata lebih awas sepanjang malam demi menamatkan satu episode, yang ternyata nagih buat melanjutkan ke episode selanjutnya. Intinya, prestasi baca yang saya upayakan dari awal tahun melorot setajam-tajamnya ke angka nol dalam satu bulan.

Sampai suatu ketika, seorang kawan yang saya temukan secara tidak sengaja, bertanya tentang sebuah buku yang saya jual. Katanya, “ini bukunya tentang apa sih Mbak?” Secepat kilat saya buka google, mengetikkan judul buku yang dia maksud, dan memberikan link resensinya ke dia. Secara, saya saja belum baca buku itu!

Tapi saya bersyukur. Aktivitas saya sebagai pemula dalam dunia jual-menjual buku ternyata memaksa saya untuk memenuhi target baca yang terbengkalai itu. Pelan tapi pasti, saya buka kembali lembar demi lembar satu buku yang sudah dua bulanan lalu saya pegang. Sekarang, tinggal 7 buku lagi yang tersisa untuk sampai di titik ke-26. Saat memulainya lebih dari setengah tahun lalu, saya sangsi bisa menyelesaikan tantangan ini. Tapi di titik ini sekarang, saya tidak percaya juga kalau lebih dari separuh target itu sudah saya raih. Saya bisa juga ternyata.

Seorang kawan lainnya pernah kaget dengan jumlah target saya. Katanya banyak sekali. Saya pikir ini sedikit, kalau ukurannya adalah teman saya yang targetnya 50-60 buku itu. Saya pikir jumlah target saya sedikit dibanding target Indonesian Montessori dengan tantangan 1000 buku dalam 3 tahun (untuk anak kecil pulak!). Intinya sih, dari postingan ini saya cuma mau menyampaikan, menantang diri untuk membaca buku bisa jadi ajang untuk mengukur diri; apakah kita memang sejenis kutu buku aka reader atau sekedar pengumpul buku?

Reading Challenge

Kuswointan, yang sedang berjuang dengan target ke-20 nya.