Dikuntit

Halah apaan sih pakai nulis dengan judul beginian segala. But, it was true! True pisan malah. Rasanya seperti masuk ke dalam satu scene sebuah film action!  

Salah saya juga sih sebetulnya. Siapa suruh nggak nerima tawarannya Pak Gol A Gong buat nginap di salah satu ruangannya Rumah Dunia malam itu? Bukan gengsi sih. Justru senang banget kalau bisa tidur-tiduran lagi di Rumah Dunia. Tapi saya juga senang kalau bisa “numpang” di kosan Yehan, kawan saya yang juga murid di padepokan yang sama. Secara udah lama banget kami nggak jumpa, pasti banyak cerita yang bisa kami bagi. Apalagi, Yehan malam itu juga jadwal lahiran. Yup, lahiran karya alias buku. Jadi ini semacam apa ya? A great moment gitu buat spend the night together. 

Sudah lewat pukul satu dini hari. Artinya, suara petasan sudah hilang ditelan gemericik hujan di luar ruangan Auditorium Surosowan.Yang juga punya arti kalau acara Karnaval Seni di Rumah Dunia harus diakhiri. Rasanya bersyukur sekali bisa datang lagi ke gedung itu. Sementara yang lain heboh dengan petasan, kembang api, dan lain-lain, kami di Rumah Dunia malah dapat ilmu; tentang buku dan film. Wah, jadi ingat episode dapat “kuliah singkat” tentang proses kreatif menulis dini hari di atas kapal yang membelah Selat Sunda setahun yang lalu. >.<”

Skip.

Yehan, Teh Putri dan Nimas sudah siap-siap mengajak saya pulang ke daerah kosan Yehan di Ciceri, belakang Carrefour Serang. Sementara itu, Bang Jack yang juga akan mengantar kami masih sibuk membereskan ini-itu. Maklum, panitia. Ketika semua sudah beres, meski masih gerimis, kami nekat saja. Capek, gan! Saya dibonceng Nimas pakai motornya Teh Putri sementara Yehan mesti berbagi jok dengan Teh Putri dan Bang Jack. *terharu, merasa spesial gitu deh si saya!*

Untuk menghemat waktu, kami memotong jalan. Nah di sinilah awal mula adegan menyeramkan itu dimulai. Sewaktu sampai di sebuah tikungan tajam, saya melihat sosok itu. Dia pakai jas hujan warna ungu dengan helm full-face yang tetap memperlihatkan dua matanya. Kebetulan, di tikungan itu saya menoleh dan bersitatap dengan dia. Dia laki-laki. Motornya berhenti tepat di ujung runcing tikungan, melihat ke arah kami- saya dan Nimas. Setelah beberapa menit, saya menengok lagi dan mendapati dia ada di belakang, sedikit menjaga jarak dari motor kami. Jantung saya mulai memompa darah lebih cepat. Dia nggak ngikutin kami, kan? Tapi dia tetap ada di belakang meski kendaraan lain nggak sabar dengan laju motor kami yang segitu-gitu doang. Kenapa sih dia nggak duluan aja? Kok ya malah tetep ada di belakang? Parahnya, ketika saya tanya ke Nimas bisa nggak kira-kira motor ini nyusul motornya Bang Jack yang ada di depan sana, Nimas dengan enteng malah balik nanya, “Kakak takut?” Damn yess, girl! Dan ketika saya tanya ke Nimas apa bener dia yang berjas hujan ungu itu nguntit kami, Nimas malah bilang kalau di belakang nggak ada siapa-siapa. Hiks. 😥

Saya pikir, ketika masuk Ciceri, drama horor ini berakhir. Nyatanya nggak. Dia tetap ada di belakang dengan kecepatan konstan. Saya tanya Bang Jack waktu kami sampai, apa yang di belakang itu temannya. Tapi Bang Jack bilang dia nggak minta diikutin teman. Akhirnya, karena takut setengah mati, saya bilang kalau dari tadi ada yang nguntit kami. Waktu bilang begitu, saya baru ngeh itu orang juga ikut berhenti beberapa meter jaraknya dari kami. Agak mepet ke pagar rumah orang dan langsung mematikan lampu depan motornya. What the?! Setelah Bang Jack pamit pulang dan berjanji nyamperin si ungu itu, kami bergegas masuk ke kosan Yehan yang ternyata masih juga dikuntit si ungu. Dia lewat depan kosan, berhenti beberapa meter sebelum kemudian puter arah lagi ke kosan, berhenti di depannya dan mengeluarkan handphone sebelum akhirnya pergi. Harusnya kami tegur saja ya? Iya, tapi kami terlanjur takut. Takut sekali. Allaahumma…

Jadilah kami berjaga-jaga. Bang Jack ketika ditelpon dan ditanyai hasil interogasinya ke si ungu malah dengan santai bilang nggak ada siapa-siapa, palingan itu cuma orang lewat atau orang iseng aja. Duh. Tapi Allah Maha Menjaga… :’) Kami salah sih, nekat pulang malam-malam gitu padahal udah dikasih tawaran yang nyaman dan pasti aman. Ah, Allah… maafkan kami, ampuni kami yang sombong ini.

Pelajaran berharga banget buat saya yang masih ngaku berani dan sok berani pulang malem. Manusia mungkin begitu ya, mesti ada kejadian dulu baru mau evaluasi, baru kapok. Duh Gusti… astagfirullaah…

Well girls, jangan sok-sok kalau kamu tuh kuat, berani, etc yang ngebuat kamu malah kayak nantang bahaya, ya. Hindari pulang malam meski kamu ada dalam sekelompok orang. Kalau terpaksa banget mesti pulang malam, pastikan ada mahram yang jemput! Kalau nggak ada, mending stay dulu sampai besoknya, atau cari tumpangan teman cewek yang terdekat dari lokasi. Dan, berdzikirlah selalu. Minta penjagaan Allah atas diri.

Ayo kita minimalisasi tindak kejahatan mulai dari diri kita dulu.Okay? ^^

Kuswointan, penyuka udara.

Advertisements